TRADISI SETOR MUKA MENJELANG MOMENT POLITIK

a.khozin

Kendal, delikjateng.com. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun Politik lagi, tetapi dengan scope yang lebih kecil. Tahun 2020 adalah tahun politik bagi Pemerintah Daerah maupun Kota Madya, karena ditahun tersebut akan terjadi peristiwa politik, yaitu adanya Pemilihan Bupati Walikota dibeberapa Daerah.

Peristiwa tersebut disambut oleh Masyarakat dengan berbagai ragam reaksi dan motifasi.
Kalau Partai Politik jelas punya motivasi bisa merebut kekuasaan, dunia usaha punya motivasi dimudahkan ijin usahanya, dunia konstruksi berharap bisa dapat kontrak, masyarakat berharap bisa melihat Pembangunan Daerahnya dilaksanakan dengan baik, jangan ada korupsi, aman, dan tersedia lapangan pekerjaan, murah pangan juga murah papan, serta masih seabrek harapan-harapan besar lainya dari masyarakat.

Marilah kawan kita saksikan bersama, beberapa bulan ke depan pasti akan kita lihat adegan-adegan para badut intelektual, mereka melakukan deklarasi dimana-mana, mengadakan event dimana-mana, untuk apa, ya untuk dilirik oleh para calon Penguasa.

Atau dari kalangan arus bawah,Mereka akan berlomba-lomba cari muka, setor muka, menggeret-nggeret sang calon untuk bisa hadir dalam kegiatanya,

Alibinya adalah ikut serta membangun elektabilitas Calon di mata Publik dengan menebar pencitraan, Berharap masyarakat akan bersimpati, biar dianggap sebagai peduli WONG CILIK.

Prilaku buruk kalangan tertentu tersebut berbeda dengan yang dilakukan kaum marginal dalam rangka menarik simpati sang calon, mereka terus menerus melakukan kegiatan, dari tahap ke tahab berikutnya, jadwal tersusun rapi, dengan mencari potensi obyek yang paling mungkin diterima masyarakat, diantaranya,
Yatim piatu, orang jompo, bedah rumah, orang sakit, abang becak, tukang sapu, pemulung, penjaga palang pintu, pak ogah dan obyek-obyek lainya yang bisa membangkitkan atensi dan simpati dari masyarakat luas.

Dan bengisnya lagi, anggaran yang di gunakan bukan berasal dari kantong pribadi penyelenggara, tapi mereka memobilisasi donatur dengan label sosial keagamaan.

Itulah bengis dan gilanya, mereka memanfaatkan kaum marginal sebagai serana mencapai sasaran tembak pribadinya, untuk kepentingan pribadinya dengan cara berlindung dibalik kegiatan-kegiatan yang sebetulnya politis tapi dikemas dalam bentuk sosial keagaman.

(A.Khozin)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan