Perzinahan artis

Oleh: Muh. Nursalim

Apapun bisa dipakai untuk kampanye. Dengan menyerang lawan atau memuji sang jagoan. Termasuk urusan pelacuran selebritis. Yang lagi heboh. Di media sosial maupun elektronik.

Coba baca kicauan Deny Siregar ini. “Habis bayar sekali crot 80 juta, trus teriak, “jaman @jokowi apa-apa mahal”.

Terus ditimpali Permadi Arya, “masih banyak yang sanggup bayar apem 80 juta sekali tembak adalah bukti pak @prabowo &@sandiuno nebar Hoax mengatakan “rakyat makin miskin”.

Guyonan tapi juga serius. Mengkaitkan sesuatu dengan yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Jokowi satu sisi, pelacuran artis pada sisi yang berbeda. Prabowo satu sisi, jual beli apem artis adalah sisi yang berlainan.

Ibarat nonton bola. Yang penting ikut sorak sorai. Nimbrung di keramaian orang-orang yang tidak dikenal. Mengais sesuatu di tengah isu yang lagi ramai.

Dilihat dengan kacamata komunikasi. Itu cara cerdas. Mencantelkan dagangannya pada peristiwa terkini. Yang semua orang lagi memelototi. Sopan apa tidak, itu nda begitu penting. Yang jadi pertimbangan utamanya, dagangan laku. Dapat untung besar. Titik.

Penulis juga tergugah menyampaikan pesan penting langit. Nyantelkan pada peristiwa yang sedang terjadi. Pelacuran artis nusantara. Yang harganya melebihi UMR kota Surakarta. Bahkan bila dikumpulkan selama tiga tahun.

Zina itu dosa besar. Kata Imam Adz Dzahabi pada kitab Al Kabair. Ia termasuk hudud. Hukumannya langsung dari Allah dan Rasulnya. Mau tahu ?. Ini dia hukumannya.

Pezina perempuan dan laki-laki deralah masing-masing keduanya seratus kali. Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan hukum Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang yang beriman. (An Nur: 2)

Dipukuli pakai rotan seratus kali. Inilah hukuman aslinya. Bagi para pezina. Tidak boleh kasihan. Walaupun diteriaki melanggar HAM. Bahkan perlu dipertontokan kepada khalayak. Untuk memberi pelajaran.

Kata aktifis. Itu bentuk hukuman kejam. Barbar dan tidak berperikemanusiaan. Perkataan itu sama dengan menuduh Allah tidak rahman tidak rahim. Tidak punya sifat kasih dan sayang. Kepada manusia. Khusunya para pezina. Padahal Allah mengatakan.

Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu (Al Araf: 156)

Segala sesuatu. Itu berarti bukan hanya manusia tetapi juga makhluk yang ada di mana saja. Maka pezinapun mendapatkan kasih sayang Allah. Hal ini juga ditegaskan Sabda Nabi saw.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “ Sesunguhnya ketika Allah menetapkan makhluk, Ia menulis di atas arsy, “Kasih sayang-Ku mendahului kemurkaan-Ku”. (HR. Bukhari)

Lalu di mana letak kasih sayang Allah. Kalau berzina saja harus dipukuli ?

Ketika Maiz bin Malik selesai dirajam. Dilempari batu sampai mati. Sebagai hukuman atas perzinahannya. Orang-orang berkerumun. Membicarakan nasibnya. Ada yang mengatakan, “Mampus kau Maiz”. Rasulullah saw mendengar cuitan orang tadi. Lalu beliau bersabda, “Maiz telah bertaubat, sesungguhnya bila taubatnya dibagi ke seluruh manusia semua kebagian”.

Itu kasus zina muhson. Pelakunya telah berkeluarga. Hukumannya bukan hanya dipukuli seratus kali tetapi dirajam sampai mati. Itulah cara menghapus dosa perzinahan. Menutup maksiat besar. Melanggar larangan Allah.

Dikuatkan lagi dengan sabda Nabi yang lain.

Dari Ubadah bin Shamit berkata, kami bersama Rasulullah saw. Beliau bersabda, “ ikutilah aku. Jangan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Jangan berzina, jangan mencuri dan jangan pula membunuh jiwa yang diharamkan Allah. Siapa yang mengikuti maka pahala disisi Allah. Siapa yang melanggar lalu dihukum maka itu adalah kafarat baginya.” (HR. Muslim)

Hukuman yang di mata manusia kejam itu ternyata bentuk kasih sayang Allah. Ia akan menghapus dosa pelakunya. Di akherat dirinya terbebas dari azab Allah. Itu kasih sayang untuk pelaku zina. Adapun untuk masyarakat. Sangat jelas.

“Perlihatkanlah di muka umum saat eksekusi”. (An Nur: 2)

Ini cara paling efektif mencegah perzinahan. Siapapun akan merasa ngeri bila menyaksikan algojo mememukuli pelaku zina atau merajamnya sampai mati. Setelah itu mereka akan berfikir seribu kali bila ingin melakukan yang sama.

Satu orang dihukum, sejuta yang lain terselamatkan. Karena manusia punya akal. Manusia punya pertimbangan. Bisa membandingkan dirinya dengan orang lain. itulah cara belajar. Seperti saat Qabil bingung menguburkan adiknya yang ia bunuh. Ia melihat burung gagak yang bertarung. Satu mati dan yang menang menggali tanah untuk mengubur kawannya.

Tapi KUHP kita sangat ringan menghukum pelaku zina. Pasal 284 menyebutkan. Hukuman maksimalnya hanya 9 bulan penjara. Dengan pembelaan pengacara paling hanya kena satu atau dua bulan.

Lebih nyesek lagi definisi zina dalam KUHP. Pasal 284 disebutkan : Zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki laki dan perempuan yang sudah kawin dengan perempuan atau laki laki yang bukan istri atau suaminya. Dilakukan dengan suka sama suka.

Konon artis yang harganya berjut jut itu masih jomblo. Belum menikah. Berarti dia tidak melakukan perzinahan. Sebab disebut zina bila yang melakukan sudah beristri atau bersuami. Kalau lajang ? bebas.

Maka tugas anggota dewan yang muslim. Dari partai apapun untuk memperjuangkan, agar had zina. Yang merupakan dosa besar ini masuk ke hukum pidana. Terserah mau gimana caranya. Merivisi KUHP atau membuat undang-undang baru. Agar orang takut berbuat zina. Karena perzinahan adalah nista. Di mata Allah dan manusia. Wallahu’alam

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan