MEMILIH PEMIMPIN MENURUT IBNU TAIMIYAH

Oleh: Muh. Nursalim

Saat pilgub DKI ada wacana yang berkembang, bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim tetapi zalim.

Pernyataan tersebut konon merujuk kepada pendapat Ibnu Taimiyah. Tulisan ini mencoba melacak pendapat Ibnu Taimiyah tersebut.

Ulama mujaddid ini memiliki karya yang cukup banyak, salah satunya adalah Assiyasah As syar’iyah fi Ishlahi ra’i wa ra’iyah (etika politik Islam).

Salah satu bab pada kitab tersebut mengulas tentang tata cara memilih pemimpin.

Ketika ada dilema mana yang didahulukan antara dua calon pemimpin, ia menulis begini:

السياسة الشرعية – (ج 1 / ص 9)
فإذا تعين رجلان أحدهما أعظم أمانة والأخر أعظم قوة : قدم أنفعهما لتلك الولاية : وأقلهما ضرراً فيها : فيقدم في إمارة الحروب الرجل القوي الشجاع -وإن كان فيه فجور- على الرجل الضعيف العاجز ، وإن كان أمينا

Apabila ada dua calon pemimpin, yang satu punya karakter amanah dan yang satunya lagi memiliki kekuatan. Maka untuk menentukan siapa yang lebih utama di antara keduanya tergantung nilai manfaat pada bidang tersebut dan tingkat kemadharatan bila ia menjadi pemimpin. Sebagai misal, untuk panglima perang diutamakan yang memiliki kekuatan dan keberanian walaupun ia suka berbuat dosa dibandingkan dengan laki-laki yang amanah tetapi lemah walaupun amanah.

Pendapat Ibnu Taimiyah ini merujuk kepada fatwa Imam Ahmad Ibn Hambal sebagai berikut:

سئل الإمام أحمد : عن الرجلين يكونان أميرين في الغزو ، وأحدهما قوي فاجر والآخر صالح ضعيف ، مع أيهما يغزى ؛ فقال : أما الفاجر القوي ، فقوته للمسلمين ، وفجوره على نفسه ؛ وأما الصالح الضعيف فصلاحه لنفسه وضعفه على المسلمين . فيغزى مع القوي الفاجر . وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم : « إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر » . وروي « بأقوام لا خلاق لهم

Imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang dua orang dalam memimpin perang, yang satu laki-laki kuat tapi pendosa dan kedua laki-laki sholih tetapi lemah, mana yang didahulukan ?. Beliau menjawab, “ adapun laki-laki pendosa yang kuat itu maka kekuatnnya untuk kaum muslimin dan dosanya buat dirinya sendiri, sedangkan laki-laki yag sholih tetapi lemah tersebut keshalihanya buat dirinya sendiri sedangkan kelemahannya untuk kaum muslimin. Karena itu lebih baik memilih si tukang dosa yang kuat untuk dijadikan pemimpin perang”.

Imam Ahmad berpendapat seperti itu karena merujuk adanya sebuah hadis Nabi berikut:

سنن الدارمى – (ج 8 / ص 42)
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« إِنَّ اللَّهَ يُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ

Dari Abu Huraiah ra bekata, sesungguhnya Nabi saw bersabda, Sesungguhnya Allah menguatkan agama ini dengan seorang laki-laki pendosa. (HR. Ad Darimi)

Perlu diketahui, pendapat Ibnu Taimiyah di atas bukanlah alternatif utama tetapi hanya pilihan terakhir bila yang ideal tidak ditemukan. Beliau menjelaskan bahwa memilih pemimpin itu mestinya ideal, baik kesalehan, pengetahuan maupun kompetensinya.

Hal ini merujuk kepada praktek baginda Nabi saat memilih gubernur. Beliau menunjuk Uttab bin Ussaid sebagai gubenur Makkah, Ustman bin Abil Ash sebagai gubernur Thaif, Ali, Muadz dan Abu Musa masing-masing pernah menjadi gubernur Yaman juga Amr bin Hazm diangkat Nabi sebagai gubernur Najran.

Para sahabat pilihan tersebut bukan hanya menjadi pemimpin politik tetapi juga menjadi rujukan dalam agama dan imam sholat. Praktek Rasulullah ini sejalan dengan sabda beliau.

صحيح مسلم – (ج 2 / ص 133)
عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِى الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِى السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِى الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا

Dari Abi Mas’ud Al Anshari ra berkata, Rasululllah saw bersabda, “pemimpin sebuah masyarakat itu dipilih yang paling banyak hafalan alqur’annya, bila dalam hal hafalan sama-sama baik maka dipilih yang paling mengerti sunnah, bila sama pengetahuannya tentang saunnah maka dipilih yang lebih awal hijrahnya, bila hijrahnya sama maka dipilih yang lebih dahulu islamnya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, ketika Nabi saw mengutus Muaz bin Jabal untuk menjadi gubernur Yaman terjadi dialog sebagai berikut:

مِنْ أَصْحَابِ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا أَرَادَ أَنْ يَبْعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « كَيْفَ تَقْضِى إِذَا عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ ». قَالَ أَقْضِى بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللَّهِ ». قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. قَالَ « فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ فِى كِتَابِ اللَّهِ ». قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِى وَلاَ آلُو. فَضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَدْرَهُ وَقَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ لِمَا يُرْضِى رَسُولَ اللَّهِ ».

Dari sahabat Mu’az bin Jabal bahwa Rasulullah saw. ketika ingin mengutus Mu’az ke Yaman bertanya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu’az ?”, “Kitabullah”, ujar Mu’az. “Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam kitabullah?”, Tanya Rasulullah pula “Saya putus dengan Sunnah Rasulullah”, ujar Mu’az “Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah ?”, “Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia”. Maka berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah. (HR. Abu Dawud)

Dari dialog tersebut tergambar bahwa Muaz bukanlah hanya seorang da’i yang mengajarkan agama untuk penduduk Yaman akan tetapi seorang pemimpin politik, sebab bila hanya da’i tentu tidak akan ditanyakan perihal cara mengadili masyarakat.
Politik Islam tidak mengenal pemisahan antara kekuasaan legislative, yudikatif dan eksekutif. Pemimpin politik memiliki tiga kekuasaan sekaligus. Oleh karenanya dibutuhkan seorang yang betul-betul kompeten dalam memimpin wilayah maupun sebagai mufti. Dan Muaz bin Jabal memiliki kompetensi keduanya. Maka kurang tepat bila pendapat ibnu Taimiyah yang sebenarnya hanya untuk kasus khusus ketika tidak ditemukan pemimpin ideal dijadikan pedoman untuk kasus secara umum.

Bila ada yang ideal maka pilihlah pemimpin yang paling ideal sesuai sunnah Nabi saw. Tetapi bila tidak ada pilihlah yang paling tepat untuk wilayah tersebut, bahkan bila sama-sama ideal atau sama-sama tidak ideal Ibnu Taimiyah menganjurkan agar mereka diundi.

Fatwa beliau tentang hal ini adalah sebagai.

السياسة الشرعية – (ج 1 / ص 20)
فإذا تكافأ رجلان : وخفي أصلحهما ، أقرع بينهما

Jika ada dua calon pemimpin dengan kelebihan dan kekuatan yang berimbang dan sulit untuk menentukan siapa di antara keduanya yang paling layak dan sesuai, pemilihan dilakukan dengna cara undian.

Ibnu Taimiyah lahir duabelas tahun setelah Baghdad dihancurkan tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan. Itu artinya kekuasaan bani Abasyiah telah berakhir. Sang penakluk yang kejam itu terus berupaya melumat daerah-daerah sekitarnya termasuk Syam. Saat masih remaja beliau ikut berperang menghalau tentara Mongol yang ingin menguasai Syam. Karena itu ulama ini merasakan betul betapa pahitnya bila umat Islam tidak mempunyai pemimpin yang cakap dan kuat yang dapat melindungi kaum muslimin.

Sebuah fatwa tidak lahir di ruang kosong tetapi selalu kon tekstual sesuai dengan kondisi masyarkat saat fatwa dikeluarkan.

Pendapat Ibnu Taimiyah tentang tata cara memilih pemimpin ini tidak lepas dari konsteks sosial politik yang beliau alami. Karena itu saking pentingnya seorang pemimpin bagi kaum muslimin, sampai beliau menganjurkan agar kaum muslimin tetap memiliki seorang pemimin meskipun tidak ideal bahkan walaupun hanya dari hasil undian. Wallahu’alam

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan