Awas Virus Venezuela

Oleh: Muh. Nursalim

Guaido memproklamirkan diri menjadi presiden. Ia merasa menjadi pemenangnya. Sementara Presiden Meduro mengklaim dirinyalah yang menang. Sang oposan mendapat dukungan AS, Uni Eropa dan negara-negara tetanggnya. Sementara petahana didukung oleh China dan Rusia. Itu terjadi di Venezuela. Sebuah negara kaya minyak di Amerika Latin. Satu negara dua presiden.

Krisis politik itu sudah berlangsung hampir satu tahun. Pemilu bulan Mei tahun lalu secara resmi dimenangkan petahana. Tetapi oposisi menilai panitia curang, dan dirinyalah aslinya yang menjadi pemenang.

Akibatnya merembet ke krisis ekonomi dan sosial. Lima juta lebih warga Venezuela mengungsi ke nagara tetangga. Inflasi satu juta persen lebih dan perang saudara mengancam.

Di sini lembaga survei telah mengumumkan. Petahana sebagai pemenangnya. Sementara oposisi meragukan hasil survei tersebut. Mereka dinilai tidak netral. Bukan saat ini saja tetapi sejak sebelum coblosan dimulai. Survei untuk menggiring opini dan akhirnya mempengaruhi panitia resmi.

Sebagi tandingan. Oposisi sudah mendeklarasikan kemenangan. Berdasarkan real count dari kubunya. Juga exit pol dari lembaga survei yang menurut oposisi lebih dipercaya.

Jagad medsos perang data. Pendukung petahana tentu meyakini kebenaran lembaga survei. Pendukung oposisi menyuguhkan data sebaliknya. Masyarakat terus terbelah. Yang tidak fanatikpun jadi bingung. Data mana yang dipercaya.

Kita berharap negara-negara sahabat tidak keburu-buru memberi ucapan selamat. Kepada pihak manapun. Sebab langkah itu akan semakin memperkeruh suasana.

Pun demikian presiden tidak perlu mengeluarkan dekrit. Negara dalam keadaan bahaya. Membubarkan parlemen. Menganulir pemilu dan semacamnya. Biasa saja lah. Wong orang-orang kampung juga adem. Pro 01 dan 02 juga masih nongkrong bareng di hik. Pagi ini mereka juga asyik ngopi di warung pinggir sawah. Yang rame itu medsos bukan rakyat di bawah.

Virus Venezuela tidak perlu menular ke sini. Para cerdik cendekia saatnya turun gunung memahamkan kepada masyarakat secara jernih. Meskipun terkadang sulit. Karena sudah telanjaur menjadi partisan. Tetapi perlu dilakukan.

Pertama. Panitia resmi itu KPU bukan lembaga survei. Sampai saat ini perhitungan KPU masih berlangsung. Belum ada hasil final. Bahkan pleno tingkat kecamatanpun belum dilakukan. Di seluruh Indonesia. Biarkan mereka bekerja. Masyarakat tinggal ngontrol.

Kedua. Dalam setiap pengumuman. Lembaga survei itu selalu menambahkan kelimat, margin of error sekian persen. Bahasa kampungnya. Hasil surveinya masih ada peluang salah. Karena itu jangan memutlakkan kebenaran hasil quick count. Itu berbahaya. Karena mereka sendiri sudah menyatakan kemungkinan hasil survei ada errornya. Ada salahnya.

Ketiga. Deklarasi kemenangan Prabowo itu merujuk real count lembaganya sendiri. Hasil C1 dari TPS seluruh Indonesia. Tetapi perlu dimengerti. Saat Prabowo mengumumkan kemenangannya itu, baru 40 persen C1 yang masuk. Dari 40 persen itu ia memperoleh 62 persen. Artinya kita belum tahu hasil akhir bila nanti semua sudah dihitung. Masih istiqamah atau berubah prosentasenya.

Budaya instan ternyata merambah semua lini kehidupan. Di warung ada Fast food. Makanan cepat saji. Di bandara, jamaah haji dapat pelayanan fast track yaitu jalur cepat layanan imigrasi dan beacukai. Di pemilu kita disuguhi Quick Count. Hitung cepat ala lembaga survei.

Orang ingin serba cepat. Banyak orang ingin cepat kaya dengan korupsi. Cepat pintar pakai ilmu laduni. Cepat sembuh cari pengobatan alternaif. Cepat dilayani lewat pintu belakang. Tetapi ada tiga cepat yang kebanyakan orang tidak mau. Cepat bayar utang, cepat tua dan cepat mati. Yang tiga ini. Nanti dulu ah.

Demokrasi itu mahal. Menguras anggaran negara hingga 24, 9 Triliun. Demokrasi juga mahal. Karena menguras kesabaran para pesertanya. Demokrasi juga mahal karena menyedot perhatian orang sentero negeri.

Tetapi samahal-mahalnya angka yang perlu dibayar, itu jauh lebih ringan daripada perang karena berebut kekuasaan. Somalia puluhan tahun menjadi negara gagal. Tidak ada penguasa yang punya otoritas yang diakui rakyatanya. Begitupun Libia. Negara kaya itu pasca Muammar Gadhafi wafat jadi kacau. Presidennya juga dua. Satu menguasai Benghazi dan satunya lagi di Tripoli. Yaman sekali tiga uang. Kacau balau tidak ada kepastian siapa penguasa sebenarnya.

Kekacauan sebuah negara itu selalu berulang. Terjadi di banyak tempat. Penyebabnya selalu sama, perebutan kekuasaan. Keadaan seperti itu sangat mengerikan. Berbahaya dan merugikan semua warga. Itulah sebabnya, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatwa mengatakan:

سِتُّونَ سَنَةً مِنْ إمَامٍ جَائِرٍ أَصْلَحُ مِنْ لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ بِلَا سُلْطَانٍ

Enampuluh tahun dibawah penguasa lalim lebih baik daripada satu malam tanpa penguasa.

Coblosan sudah dilakukan. Hasil belum final. Ikuti aturan main. Serahkan kepada otoritas yang sudah ditunjuk. Itulah cara bijak agar Indonesia tidak seperti Venezuela.

Wallahu’alam

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan