Rokok Kretek

nglinting,rokok kretek

Sama-sama ngomentari wacana  tentang  harga rokok  (sudah menjadi buah bibir warga di seantero negeri ini), kawan-kawan saya menanggapinya secara berbeda. Ada yang terbakar emosinya, tapi yang lain sabar menghadapinya. Itulah wajah-wajah mereka.

‘’ Edan tenan…, Apa yang mereka inginkan sekarang,’’ kata kawan saya, Kang Waldi.

Disaat harga-harga mahal seperti sekarang, ada kepinginan naikkan harga rokok,?

‘’ Lalu apa nanti yang bisa kami beli’’

Bayangkan, sekarang ini apa yang harganya murah ? Bengsin mahal…,sepatu mahal…, bahkan bakwan saja mahal. Masih harga rokok akan dimahalkan ?

Kata Kang Waldi, sekarang ini jadi petani menjadi semakin susah. Lihat petani garam, glengsotan tak berdaya. Saudaranya yang jadi petani bawang juga hampir sama…susah. ‘’ Banyak impornya’’,

Lha Kang Waldi., yang aktif bertahun-tahun sebagai petani tembakau, juga pembuat keranjang tembakau, buruh ngrajang, tukang nggulungi, kini menunggu terkena giliran kayak petani garam atau saudaranya petani bawang.

‘’ Katanya mbako (tembakau-Red)) bisa datangkan penyakit kang ?, kayak gambar di bungkus-bungkus rokok itu,’’ kilah Kunthet nengahi emosi Kang Waldi.

Bapak saya…jawab Kang Waldi, umurnya sampai 85 tahun. Beliau tidak impoten, tidak pikun, dan tidak punya riwayat sakit jantung maupun paru-paru. Kalau nyangkul di sawah, dalam umur diatas 60 tahun tetap bugar, meski beliau perokok berat…

(Perokok berat bukan berarti disaat merokok sambil megang barbel…he…he…)

Kang Waldi ingat betul ‘’petuah’’ almarhum Bapaknya. .Sedikit ilmu yang terus dia pegangi sampai saat ini, adalah tentang bagaimana menjadi perokok berat (bukan dengan memegang barbell..lho) tapi tubuh tetap sehat.

Kata Bapaknya, isap rokok kretek. Karena rokok kretek adalah budaya dan kultur Bangsa Indonesia. Itu adalah warisan alam dan nafas kehidupan orang-orang gunung yang tetap sehat.

‘’  Malah yang namanya cengkih itu bisa untuk sembuhkan beberapa macam penyakit. Misal sakit gigi. Caranya rendam dalam air hangat, lalu cairannya oleskan pada gigi yang sakit. Dua – tiga kali sembuh,’’ kata Kang Waldi yang mulutnya terus kemebul dari sedotan asap rokoknya..

Masih ada bukti lagi, mengapa ibu-ibu jaman dulu walau sudah tua, tapi giginya tetap putih, kuat dan tidak rontok ? Padahal dulu belum ada pasta gigi.

‘’ Itu karena berkat nginang dan nyusur mbako semprul’’.

‘’ Memang Semprul…..’’ timpal Kunthet tak kalah sengitnya. Dia sehari-harinya biasa menghabiskan lebih dari 12 batang rokok.

Kunthet nyebut ‘’Semprul’’, karena kalau nanti sebungkus rokok dalam kisaran Rp 50 ribu, berarti perolehannya sebagai buruh bangunan sehari akan habis untuk membeli satu bungkus rokok.

Padahal kalau tanpa merokok, Kunthet dan kawan-kawannya sesama buruh bangunan kurang fokus kerja. Lalu kalau dia dan kawan-kawannya harus berhenti merokok, lalu siapa yang akan membuat gedung-gedung dan jembatan megah di Republik ini ?

‘’ Itulah makanya, kita perlu siasat,’’ timpal Pak Haji Dirman kalem.

Ya namanya sudah menyandang sebagai Haji, penyampaikan Pak Dirman tak sekasar Waldi maupun Kunthet.

Dia menunjukkan beberapa barang yang baru dibelinya di sebuah toko tembakau di kawasan Kota Parakan, Kabupaten Temanggung. Yakni sebuah kotak plastik yang ada karetnya (kata H.Dirman itu adalah alat pelinting/pembuat rokok), setengah ons tembakau kemasan, satu bungkus plastik berisi cengkih, dan beberapa pak kertas rokok.

‘’ Ini harganya tak lebih dari Rp 25 ribu. Yang mahal kotaknya Rp 14.000. Berarti tembakau, cengkih dan kertas rokoknya sekitar Rp 11 ribu’’.

Dengan biaya itu, H.Dirman bisa membuat rokok untuk konsumsi sendiri sebanyak 60 batang. Kalau dirokok Kunthet yang sehari biasa habis 12 batang, maka bisa digunakan untuk lima hari merokok.

‘’ Kalau habis tinggal beli tembakau, cengkih dan kertas sekitar Rp 11 ribu. Kotaknya nggak beli lagi, karena itu bias dipakai bertahun-tahun, kecuali keinjak lalu pecah harus beli lagi’’.

‘’ Tapi jangan dijual, nanti kamu dikenai cukai juga,’’ pesan H.Dirman.  Sambil senyum kecil

Pesan Pak Haji ini, mirip-mirip dengan yang disampaikan Ketua Lasykar Kretek Jawa Tengah, Agus Parmuji, setidaknya saat beliau diwawancarai kawan saya yang lain, yakni seorang jurnalis TV Nasional.

‘’ Kalau harga rokok dinaikan secara drastis seperti usulan saat ini, satu sisi akan tumbuh rokok-rokok illegal. Dampaknya, Negara akan rugi,’’ kata Agus Parmuji.

Dia malah menyebut usulan itu sebagai ‘’usulan emosional’’. Memang Agus sepakat dengan keinginan pemerintah menekan anak-anak dibawah 17 tahun (khususnya pelajar) jauh dari rokok.

Hal ini bias ditempuh melalui mekanisme pendidikan, (atau kalau perlu dimasukkan kurikulum sekolah saja).

Tapi cara menaikan harga demikian tinggi, akan lebih membawa dampak negatif yang lebih banyak dari tujuan itu.

Setidaknya, berapa juta orang (dari karyawan pabrik rokok, pengasong sampai petani tembakau) akan terancam. Kondisi semacam ini bisa mengganggu stabilitas Negara.

Dari situ Agus Parmuji berharap, pemegang kekuasaan di negeri ini akan arif dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu, termasuk wacana menaikaan harga rokok. Jangan sampai wacana itu menjadi target penjajahan terhadap petani/tanaman tembakau yang resmi di Indonesia.

Wah, saya jadi berfikir, sedemikian dalamnya usulan beberapa gelintir orang (dibanding jumlah penduduk Indonesia) berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

Jangan-jangan, seperti pernah ditulis  Kang Waldi dalam FB, nanti kopi dianggap sebagai sumber penyakit lambung, jantung, dan diabet. Terus bahaya kopi dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Sekarang saya ingat petuah Gus Mus:

‘’ Ada Apa Dengan Kalian’’

Bila karena merusak kesehatan, rokok kalian benci…Mengapa kalian biarkan korupsi yang merusak nurani.?

Bila karena memabukkan, alkohol kalian perangi…. Mengapa kalian biarkan korupsi yang kadar memabokkannya jauh lebih tinggi ?

Bila karena najis, babi kalian musuhi……,Mengapa kalian abaikan korupsi  yang lebih menjijikkan katimbang kotoran seribu babi ?

 

Cerita ditulis Oleh  Narto Delik

Leave a Reply