Puncak Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur

5.000 lampion menerangi langit Candi Borobudur pada peringatan Tri Suci Waisak 2017 Kamis (11/5) dini hari. (Rafael)
5.000 lampion menerangi langit Candi Borobudur pada peringatan Tri Suci Waisak 2017 Kamis (11/5) dini hari. (Rafael)

Liputan Achmad K Rafael

MAGELANG, delikjateng.com – Detik-detik Waisak di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Kamis (11/5) pukul 04.42.09, diikuti ribuan ummat hindu dari berbagai penjuru kota. Peristiwa itu ditandai pemukulan lonceng tiga kali, pemercikan air berkah paritta jayanto, dan umat bersikap anjali.

Dalam renungan Waisak Tahun 2017 itu, Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira mengatakan, peringatan Hari Tri Suci Waisak bukan sekadar diadakan ritual Waisak untuk berdoa dan memohon. ” Umat Buddha harus menyadari hakikat ke-Buddha-an dan menyerapnya, berjuang untuk mengembangkan hati Buddha, dan potensi ke-Buddha-an dalam diri masing-masing,” katanya.

Lebih jauh dikatakan, bahwa Guru Agung Sang Buddha hanya mengajar dan menyadarkan, tapi pengembangan dan praktik berpulang pada individual masing-masing. Berjuanglah dengan penuh semangat untuk meraih pencerahan dan mahabudi.

Sementara Biksu Wongsin Labhiko dalam tuntunan sebelum meditasi Waisak menuturkan, kehidupan tidak cukup dengan keinginan dan waktu tidak cukup bagi kebutuhan. Dunia ini tidak ada persoalan bagi orang yang bijaksana.

“Dunia ini tidak ada persoalan apabila belajar mengetahui kenyataan, bahwa sesungguhnya dunia ini berkondisi tidak kekal adanya,” ujarnya.

Karena itu dia meminta jangan terlalu lekat dengan sesuatu. “Bahagia dan derita berbeda perasaan manusia. Menderita karena melekat, bahagia karena lepas. Itulah jalan Buddha.”

Perayaan Waisak 2561 BE/2017 di Candi Borobudur ditutup dengan ritual pradaksina oleh para biksu dan umat dengan mengelilingi candi tiga kali searah jarum jam.

Tinggalkan Balasan