Memperingati 100 Hari Wafatnya Mustasyar PCNU Blora KH Machsun  Usman

Blora, delikjateng.com – Genap 100 hari berpulangnya almarhum almaghfurlah KH Machsun Usman,Pondok Pesantren Assalam menyelenggarakan Tahlil Akbar pada hari Kamis (19/8/2021)

Keluarga besar Pondok Pesantren Assalam menggelar tahlil, dan do’a bersama, memperingati 100 hari wafatnya almarhum almaghfurlah KH Machsun Usman .

Anief Usman mengatakan jika Tahlil Akbar malam ini selain mendoakan beliau KH Machsun Usman, namun hakekatnya “ngalap barokah” dari amalan-amalan beliau.

Tahlil merupakan doa yang dipanjatkan untuk seseorang yang meninggal dunia. Tak ayal, tahlil pun menjadi tradisi di setiap pelosok daerah. Begitu pula dengan Pondok Pesantren Assalam.

Berharap semua orang khususnya dari NU sendiri mampu meneladani amalan-amalan Sang Kiai baik dalam tata kenegaraan, kecintaan terhadap bangsa negara Kesatuan Republik Indonesia maupun hal-hal yang berkaitan dengan adab, tata krama serta keilmuan-keilmuan lainnya.

KH USMAN BIN KH ABU SYUKUR
Gurunya Guru Kyai Cepu

Pecinta Sejarah Cepu, Bila kita berbicara tentang sejarah penyebaran agama Islam serta sejarah perkembangan organisasi Islam terbesar di dunia yaitu Nahdlatul Ulama di Kecamatan Cepu khususnya serta Kabupaten Blora pada umumnya, tentu tidak bisa lepas dari seorang Kyai kharismatik saat itu, yaitu KH. Usman yang merupakan muassis (pendiri) Pondok Pesantren Assalam di Cepu sejak tahun 1917, serta pendiri NU di Cepu, yang merupakan cabang NU pertama di Blora.

KH. Usman adalah seorang guru, kyai dan juga seorang pejuang yang sangat mencintai NKRI. Beliau mendapat ridho dari ayah mertuanya, KH. Hasyim (Jalakan-Padangan-Bojonegoro) yang terkenal dengan kitab Shorof Padangan, untuk memulai perjuangan dakwahnya serta membangun pondok pesantren Assalam, yang saat itu masih khusus untuk santri putra, baru setelah tahun 1920 menerima santri putri.

SEJARAH NU CEPU DAN BOJONEGORO

Diawali dari perjalanan Mbah Wahab Hasbullah dalam rangka konsolidasi organisasi Nahdlatul Ulama, kerap terhenti di Padangan. Ada yang membuat Mbah Wahab menghentikan perjalanan dan singgah sejenak di Kota Padangan. Entah karena suasana ilmiah, entah karena atmosfer ilahiah.

Pada dekade 1930, Mbah Wahab Hasbullah memang sangat getol menghelat silaturahim ke sejumlah tokoh untuk memperkuat tubuh Nahdlatul Ulama (NU) yang baru saja didirikan. Tokoh yang sering beliau kunjungi adalah KHR. Asnawi Kudus .
Sepulang dari Kudus menuju Jombang, salah satu pendiri NU itu tak langsung pulang. Beliau kerap singgah ke sejumlah tokoh dan kiai yang lokasinya sempat beliau lintasi untuk pulang menuju Jombang.

Saat singgah seperti itu, Mbah Wahab sekaligus mengadakan dialog terbuka yang dikenal dengan istilah openbaar. Sebuah dialog yang intinya memperkenalkan NU pada tokoh dan kiai yang beliau temui.

Harapan Mbah Wahab pun terkabul. Tepat pada 1938, NU Padangan dan NU Cepu lahir ke dunia. NU Padangan diprakarsai KH. Hasyim Jalakan. Sementara NU Cepu diprakarsai KH. Utsman, putra KH. Abu Syukur (Ponpes Abu Syukur).

KH. Utsman adalah menantu dari KH. Hasyim Jalakan. Oleh KH. Hasyim Jalakan, KH. Utsman ditugaskan  berdakwah mensyiarkan ajaran Islam ke Kota Cepu dan mendirikan Pondok Pesantren Assalam Cepu, yang merupakan Pondok Pesantren pertama di Kota Cepu.

Hadirnya NU di Padangan dan Cepu, membuat organisasi tersebut kian dikenal. Kecamatan-kecamatan di dekat Padangan pun akhirnya menyusul mendirikan cabang NU. Setelah kuat dan mengental di Padangan dan Cepu, NU kemudian dibawa ke Kota Bojonegoro 15 tahun kemudian, atau tepatnya, secara resmi, pada 1953.

Di Padangan, Mbah Hasyim Jalakan kian memperkuat persebaran NU dengan menjalin komunikasi pada Kiai-kiai sepuh lain. Selain itu juga mengkader junior dan santri-santrinya seperti KH. Marwan, KH. Masjkuri, dan KH. Bisri Mbaru untuk memperkuat NU.

Kiai Bisri Mbaru inilah, santri Mbah Hasyim Jalakan yang diminta fokus melanjutkan syiar NU Padangan melalui jalur dunia pendidikan formal, dengan membuat yayasan pendidikan. Sehingga kaderisasi jauh lebih terstruktur.

Sejarah Lahirnya NU Bojonegoro

Meski sudah ada beberapa pondok pesantren dan kegiatan beraroma Aswaja, belum ada organisasi NU di Kota Bojonegoro. Hal ini membuat Mbah Hasyim Jalakan tancap gas mengambil tindakan agar spirit NU segera didistribusikan ke Kota Bojonegoro.

Mbah Hasyim Jalakan patut disemat sebagai tokoh kunci dalam persebaran NU di Padangan, Cepu dan Bojonegoro. Sebab, beliaulah sosok yang mematangkan NU di Padangan, lalu mentransfer spiritnya ke arah barat (Cepu) dan ke arah timur (Bojonegoro).

KH USMAN TOKOH PENGGERAK 10 NOVEMBER

Sejarah mencatat, bahwa KH Usman – Cepu, juga ikut hadir dan mendorong pergerakan 10 November.

Upaya koloni baru Belanda pascakemerdekaan Indonesia 1945 mendapatkan tantangan keras. Dua tokoh bangsa, Bung Karno dan KH Hasyim Asyari saat itu mengatur strategi, mula-mula Bung Karno mengirim utusan menjumpai KH Hasyim Asyari untuk minta pendapat hukum mempertahankan kemerdekaan.

Gayung bersambut, KH Hasyim Asyari mengkonsolidasikan para kiai untuk merespons Bung Karno, sehingga keluarlah Fatwa Jihad pada tanggal 17 September 1945. Isinya, setiap individu harus mempertahankan kemerdekaan dan konsekuensi berat bagi yang mencederai kemerdekaan Indonesia.

Pada situasi ini KH Hasyim Asyari dan Bung Karno kembali berstrategi. Mula-mula KH Hasyim Asyari menggelar Rapat Besar Konsul-Konsul Nahdlatul Ulama se Jawa dan Madura pada tanggal 2122 Oktober 1945 di Surabaya.

Di antara yang hadir adalah KH Kamil Sholeh (Sumatera Selatan), KH Romli (Makassar), Abdul Qodir Hasan (Banjarmasin), KH. Faishal (Lombok Tengah), KH Abdurrahman (Pandeglang), KH Abdul Hamid (Bogor), KH Abdul Halim (Majalengka), KH Abbas (Buntet Cirebon), KH. Amin (Babakan Cirebon), KH Ridwan (Semarang), KH Maksum (Lasem), KH. KH Asnawi (Kudus), KH Mahfudh Shiddiq (Jember), KH Usman (Cepu) dan lainnya.

Hasilnya, KH Hasyim Asyari mengirim surat resmi yang populer dengan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

KH USMAN MEMBENTUK NU CABANG CEPU
Cabang NU Indonesia yang pertama

Seperti yang kita ketahui, Dari terbentuknya cabang pertama Nahdatul Ulama yaitu di Cepu, selanjutnya beliau mengumpulkan para sahabat sahabat penggerak di Cepu, yang salah satunya adalah KH Mas Hadi (Balun Sudagaran), Kyai Nur (Nglanjuk) , KH.Khasanusi (Ketapang) , KH Yusuf ( Jamik Cepu), KR.Sastro (Balun) dan masih banyak yang lainnya untuk membesarkan organisasi ini.

Kemudian Nahdatul Ulama Cepu tumbuh kembang dengan pesat dengan hadirnya generasi kedua yang di pimpin oleh putra beliau yang tertua KH Syadili Usman, lalu ada KH Sirodj balun, KH Ihsan Fadil , KH Mukti Ali, KH Gofar, KH Kahar , K Dimyati balun, Habib Muhammad bin Hadi Al Haddar

Hal ini teruji dengan semakin kuatnya pengaruh sayap kiri dari pergerakan Muso, Para murid murid Simbah KH Usman pun akhirnya ikut bergerak bahu membahu dengan tentara Siliwangi divisi V Ronggolawe yang dipimpin Mayjend Jati Kusumo.

Saat terjadi pemberontakan PKI tahun 1948 KH Usman sekeluarga juga sempat menjadi incaran PKI untuk dibunuh, namun Alhamdulillah masih diberi keselamatan.

Setelah pemberontak sayap kiri Muso dapat di akhiri, pergerakan Nahdatul Ulama Cepu atas arahan dari pemerintah republik Indonesia untuk ikut serta dalam politik. Tercatat pembentukan partai politik Masyumi tahun 1952-53 , dimana generasi pertama diduduki oleh para murid murid KH Usman, diantaranya adalah KH Syadili Usman, KH Mukti Ali, KH Kahar dan KH Goffar.

Dari terbentuknya kepartaian yang didalamnya berkumpulnya organisasi Islam ini, gerak laju Nahdatul Ulama Cepu semakin kuat dan mengakar di pelosok daerah dan mampu menciptakan kepengurusan di desa desa. Tercatat dalam sejarah NU Cepu, MWC NU Cepu Pertama ada di desa Nglanjuk.

Sejak tahun 1947 KH. Usman mulai tidak dapat melihat, namun semangat untuk mengajar ilmu agama Islam tidak pernah lelah, bahkan ketika Abah mulai lumpuh sejak 1952, masih tetap mengajar, hingga wafat pada hari Sabtu, 9 Jumada Al-Ula 1375 H atau 24 Desember 1955 dan dimakamkan di makam keluarga di dusun Jalakan Desa/Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro.

KELUARGA KH USMAN

Apa yang di perjuangkan oleh KH Usman, akhirnya diteruskan oleh putra putri beliau yang rata rata menjadi tokoh pejuang yang tangguh dan diakui.

K.H. Usman bin K.H. Abu Syukur.
Adalah seorang kiai yang pakar qiraah sab’ah
(Prof.Dr. A. Mukti Ali menyebutnya Gurunya Orang Cepu)
Beliau menurunkan putra dan putri yang sebagian besar juga menjadi Kiai-Nyai:
1. K.H. A. Syadzili Usman (Tokoh 1948)
2. Nyai Hj. Masturoh
3. Nyai Hj. Mabruroh
4. K.H. Muhaimin Usman
5. K.H. Machrus Usman ( PW NU Bali )
6. K.H. Machsun Usman ( Muhtasar NU Cepu)
7. K.H. Dr. Maghfur Usman ( Muhtasar PBNU)
8. K. Alghozie Usman.

Dari kedelapan putra putri beliau pun sekarang menyebar keseluruhan Indonesia bahkan ada yang sampai Brunai.  Generasi lapis pertama dari KH Usman semuanya telah meninggal dunia dan digantikan generasi berikutnya yang besar harapan kami juga ikut peduli membesarkan NU khusus nya NU Cepu

Generasi penerus di lapisan kedua.. Ada mbak Any Hani’ah Machrus , Gus Ahmad Rofi’ Usmani, Gus Adib Machrus , Gus Sholih Usmani , mbak Fajar Fauziyati , Gus Anief Usman dan masih banyak lagi yang maaf tidak bisa kami sebutkan satu-persatu yang kesemuanya insyaallah bergerak tidak mengenal lelah bersyiar di jalan ALLAH.

KENANGAN TERHADAP KH USMAN

Hampir sebagian besar masyarakat baik orang biasa maupun kyai di Cepu dan sekitarnya pernah menimba ilmu dan berguru pada KH. Usman. Tidak salah jika KH. Usman disebut sebagai “Gurunya Orang Cepu”.

Beliau Sosok Guru, Ayah sekaligus idola bagi penggerak Islam di Cepu. Dan hasil jerih payah beliau dalam mendirikan pondok pesantren telah menghasilkan lulusan lulusan terbaik, santri santri terbaik yang mampu mengharumkan nama Cepu

Pondok pesantren Assalam, sampai sekarang masih ada dan tetap eksis, tepatnya berada di Jl.Diponegoro Lorong 3 Cepu, dibawah naungan Yayasan Wakaf Pesantren Assalam Cepu.

Kagumi dan sayangi. Beliau adalah guru dan teladan yang amat kami hormati.Pada setiap langkah KH Machsun Usman,selalu dilandasi kedisiplinan yang tinggi sesuai jiwa yang mengalir sejak usia muda. “Dibarengi tuntunan agama yang lekat dalam jiwanya sejak kecil. Beliau pantang menyerah,” ungkapnya

Dalam penyampaian hikmah, Gus Anief mengungkapkan, bahwa almarhum almaghfurlah Kyai Haji Machsun Usman adalah sosok yang tangguh. Ia menghidupkan ruh pengajian untuk para santri,memikirkan, dan menyiapkan fasilitas untuk kenyamanan para santri dalam menuntut ilmu, bahkan mendo’akan para santri agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

(Arif)

Leave a Reply