DANA DESA UNTUK TAMAN PENDIDIKAN ALQURAN


Oleh: Muh. Nursalim

Ada gula ada semut. Sebuah peribahasa yang selalu aktual di mana saja. Gulanya kali ini di desa. Ini berkah dari dilaksanakannya UU No. 6 tahun 2014 tentang desa.

Pada pasal 72 ayat (1) huruf b dan ayat (2) Undang-Undang tersebut bahwa besaran Dana Desa (DD) adalah 10 persen (10%) dari dan di luar dana Transfer Daerah (atau on top) yang dialokasikan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara bertahap.

Sepuluh persen dari APBN. Ini angka yang tidak sedikit. Kalau APBN tahun ini Rp.2.220.7 triliun maka berapa jumlah rupiah yang sampai ke desa bisa diperkirakan. Dengan kelakar orang sering bilang dana desa itu se ember.

Pundi-pundi desa semakin berisi dan inilah gula yang mengundang siapa saja ikut menikmati. Maka saat pengisian perangkat desa yang kosong minggu lalu, peminatnya sangat banyak.

Kalau dulu perangakt desa itu hanya lulusan SD, SMP dan SMA kemarin tidak sedikit sarjana yang ikut mengadu nasib. Daya tariknya sangat kuat, karena sekarang menjadi perangkat desa itu bukan hanya bergaji sawah bengkok tetapi ada insentif bulanan yang besarnya di atas UMR.

Lord Action punya teori, Power tends to corrupt (kekuasaan itu cenderung korup). Ini juga aktual sepanjang sejarah. Ketika uang mengalir ke desa begitu besar lalu muncul berita-berita miring yang dahulu tidak pernah ada.

Kepala desa ditangkap polisi, kepala desa ditahan kejaksaan, kepala desa didemo warga karena korupsi dana desa. Banyak kades terjerat hukum. Berita-berita seperti itu menjadi sering menghiasi media masa.

Bahkan untuk pengisian perangkat desa kemarin, Koran Solo Pos menulis judul artikel, Kursi Perdes Sragen di booking hingga 1 Milyar.

Wartawan tentu tidak ngarang cerita. Meraka menulis apa yang didengar, dilihat dan dirasakan. Fakta yang sebenarnya seperti apa, yang tahu aparat penegak hukum.

Di tengah berita-berita miring tentang desa. Malam kamis lalu penulis diminta mengisi sebuah acara yang di danai dengan dana desa. Judul yang terpampang di depan adalah, Pembinaan Umat Beragama.

Menurut laporan ibu kepala desa Karanganyar. Bahwa yang hadir malam itu semuanya muslim. Karena penduduk desa Karangnyar Kecamatan Plupuh yang non muslim hanya dua kk. Dan kebetulan keduanya merantau, tidak ada di rumah. Maka jadilah malam itu seperti acara pengajian.

Yang juga menarik malam itu juga diserahkan uang operasinal Taman Pendidikan Alquran. Ada duapuluh TPQ yang mendapatkan dana tersebut, masing-masing Rp. 1 juta.

Ini terobosan yang menarik. TPQ yang selama ini hidupnya hanya mengandalkan donatur masyarakat yang sangat sedikit diperhatikan oleh desa dengan dana desa.

Pembangunan fisik, ngecor jalan, memperbaiki talut itu penting tetapi pembangunan mental spiritual itu jauh lebih penting. Lagu Indonesia raya yang setiap upacara dinyanyikan berbunyi, Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya, untuk Indonesia Raya.

Membangun jiwa berarti menanamkan akidah yang banar, mengajarkan alqur’an dan mendidik akhlak anak-anak. Mereka sangat membutuhkan sentuhan ruhani dari para guru ngaji yang kebanyakan tidak mendapat gaji.

Bupati Sragen telah membuat edaran gerakan 1820. Isinya sangat bagus dan menantang. Yaitu pada jam 6 sore hingga 8 malam TV harus dimatikan HP disimpan diganti dengan mengaji dan belajar.

Gerakan ini akan semakin bergaung dan efektif bila ditunjang dengan pendanaan yang cukup untuk Taman Pendidikan Alqur’an. Utamanya lewat dana desa yang saat ini luar biasa. Wallahu’alam

Leave a Reply