NARASI MIRING ZAMAN NOW

MS Viktor Purhanudin ( Dosen IAIN Salatiga)
MS Viktor Purhanudin
( Dosen IAIN Salatiga)

Tak dapat bantah, bahwa saat ini merupakan era tanpa batas serta tingginya rasa kemerdekaan manusia untuk mengekspresikan semua yang dipikirkan dan diinginkan. Berkembangnya ilmu bersamaan dengan majunya teknologi informasi (TI) menambah kesempurnaan bagi manusia untuk menjadikannya sebagai media komunikasi yang mudah diakses. Namun, melalui TI sebagai wadah mengekpresikan semua rasa tersebut acapkali melampaui batas-batas hak manusia. Pengguna dunia TI seakan tak peduli lagi atas hak-hak orang lain yang sepatutnya perlu dihargai. Dalam pendekatan epistemologis, era TI sesungguhnya memberikan banyak kebermanfaatan untuk membangun peradaban manusia lebih baik. Hal itu akan dapat tercapai apabila manusia di era TI atau sering dijuluk dengan generasi zaman now memiliki modal yang meliputi intelektual, moral, budaya ketimuran, akal dan hati yang beriringan, serta Agama sebagai ‘way of life’.

Bagi manusia yang memiliki ihwal tersebut, eksistensi TI mampu memberikan pencerdasan, kebijaksanaan, dan kesantunan. TI dipakai sebagai upaya menyebar kebajikan bukan kebencian, dijadikannya sebagai sarana mendekatkan diri pada Sang Khalik secara vertical, juga membangun komunikasi keumatan secara horizontal. Namun sebaliknya, manusia yang tidak memiliki bekal seperti dijelaskan diatas akan memanfaatkan TI sebagai sarana mencari keburukan sesama, memutar balikkan fakta, kritiknya pedas, tajam nan menyakitkan hingga berujung pada fitnah. Lebih jauh mereka juga memanfaatkan TI untuk keuntungan sendiri dengan menghalalkan segala cara. Wajah itu seakan mengusik nilai positif TI. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa alasan, antara lain: Pertama, akibat posisi yang diemban sebagai topeng menutup bopeng diri serta kedekatan dengan penguasa dijadikannya sebagai senjata ampuh, padahal dengan kekuatan yang hanya terbatas oleh waktu. Kedua, rusaknya hati karena tak mampu menyentuh hidayah-Nya sebagai obat tertinggi bagi penyembuhan diri. Akibatnya, penyakit hati menjadi kronis dengan pupuk fitnah dan iri yang semakin menyemarakkan aroma bunga permusuhan. Ketiga, tertutupnya nurani untuk mengakui kesalahan guna mengokohkan lentera yang menganggap diri sebagai makhluk sempurna. Kelu rasa lidah untuk menyatakan maaf atas kesalahan diri. Namun lidah menjadi lincah ketika mengarah untuk menyalahkan dan menghujat orang lain.

Meski kebiasaan menghujat bukan persoalan baru, namun di era zaman now, perilaku yang mencerminkan hal tersebut akan sangat cepat menjangkau wilayah luas dan mendunia. Jika sikap saling menghujat dilakukan secara personal, mungkin dampaknya tak akan meluas karena penyakit oknum hanya terbatas personal. Akan tetapi, apabila perilaku tersebut dilakukan oleh sekelompok orang, organisasi, atau kelembagaan bahkan parahnya lagi malah menganggap sebagai sebuah tradisi, maka dampaknya akan sangat fatal mampu menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Perilaku saling menghujat membuka kelemahan sesama sesungguhnya pernah dinukilkan Allah SWT dalam Al-Quran agar tetap menjaga kesantunan dan kebenaran dengan kata-kata bijak (QS. An-Nahl: 125). Selain itu, dalam hadis Qudsi juga telah diingatkan “barang siapa yang menutupi keburukan ‘aib’ seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah SWT akan menutup ‘aibnya’ di dunia dan akhirat” (HR Imam at-Tirmizi). Membuka aib yang jelas dilakukan saja sebaiknya dihindari dan dilarang, apalagi bila yang dibuka aibnya justru tidak pernah dilakukan oleh individu yang dihujat. Bila tradisi saling menghujat dan berupaya menampilkan aib sesama menjadi kebiasaan dan kepribadian, maka dapat dibayangkan bagaimana ke depan diri mereka menjadi sosok yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting.

Kiranya apa yang diprediksi leluhur melalui pepatah “kemarau setahun hilang tak berbekas gara-gara hujan setengah hari” seakan mendapatkan momentum di zaman now. Padahal, nenek moyang bangsa ini hidup dengan kesederhanaan, namun hatinya yang bersih mampu melampaui filosofi pemikiran manusia saat ini. Kata bijak tersebut seakan terjawab pada perilaku manusia modern dalam menilai sesama. Meski dalam kehidupan seorang manusia telah memberikan manfaat bahkan menyelamatkan banyak hajat hidup manusia, namun karena kekhilafan kecil justru kebaikannya akan sirna. Anehnya para penghujat adalah mereka-mereka yang pernah mendapatkan kesenangan dan pernah diselamatkan oleh orang yang dihujat. Begitukah yang diharapkan Allah pada manusia sebagai pemikul amanah-Nya?. Sudah saatnya setiap diri yang ditakdirkan hidup di era zaman now untuk menjadi insan sempurna dan bijak dalam mempergunakan media TI secara bijak dan benar.

Oleh karenanya, kebiasaan saling menghujat “mengotori” nilai-nilai positif yang ingin disampaikan melalui TI wajib ditinggalkan. Sebab, bila dipertahankan akan menjadikan anak bangsa disibukkan untuk membalas hujatan. Akibatnya, waktu untuk memberikan pencerdasan pada umat akan hilang. Jangan seperti ular sawah yang makan mangsanya ketika dikeluarkan dalam bentuk yang sama. Informasi yang tak dicerna melalui penyaringan atas kebenarannya, akan membuat sama rendahnya kualitas diri dengan para pelaku penghujat. Hiduplah seperti kedua tangan yang saling melengkapi. Meski tugas dan fasilitas yang diperoleh berbeda, namun kedua tangan tak pernah saling menyakiti, akan tetapi saling melengkapi. Demikian ayat kauniyah yang Allah SWT berikan pada diri manusia. Semua terserah bagaimana manusia masa kini sebagai pengguna IT dalam menyikapi kehidupan modern.

MS Viktor Purhanudin
( Dosen IAIN Salatiga)

Leave a Reply