Dua Pabrik Miras Digrebeg Polisi

KUDUS,delikjateng.com – Dalam rentang waktu tiga hari, dua pabrik minuman keras (miras) digrebeg petugas Polres Kudus. Ke dua pabrik tersebut dikategorikan berskala besar.

Awalnya Polisi menggerebeg pabrik miras di Jalan Kudus-Pati, tepatnya di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, pada Kamis (29/11). Tiga hari kemudian yakni pada Minggu (2/12) mengungkap kembali di sebuah rumah sewa di Desa Peganjaran, Kecamatan Bae.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Rismanto hari Senin (3/12) membenarkan tentang hal. Dalam mengungkap pabrik miras di Desa Pegajaran, menangkap seorang tersangka bernama Imam Safi’i, warga Desa Peganjaran sebagai tersangka.

Berdasarkan pengakuan tersangka, tempat yang digunakan untuk memproduksi minuman beralkohol itu telah berlangsung sejak dua bulan lalu. Proses pembuatan minuman keras di lokasi tersebut dikerjakan oleh dua pekerja.

” Tempat produksi tersebut diduga merupakan pindahan dari Desa Prambatan, yang juga pernah digerebek Polres Kudus,” katanya.

Tersangka mengelabuhi warga dengan membuka usaha pupuk saat menyewa rumah tersebut. Dalam runah itu petugas temukan 10 botol minuman beralkohol jenis arak putih, satu kardus berisi tutup botol, lima drum berukuran 100 liter, dua drum diantaranya berisi fermentasi dan tiga kosong, satu karung ragi, dan tiga buah tabung elpiji ukuran 12 kg.

Petugas juga menemukan alat penguji kandungan alkohol, empat buah pipa tabung untuk penyuling arak, sebuah dandang, satu buah bak, tiga buah tungku kompor gas, satu unit mobil colt, dan fermipan dalam kemasan dus.

Sementara itu, pelaku pembuatan minuman keras Imam Safi’i mengaku baru sebulan bekerja memproduksi minuman keras jenis arak putih. Dalam sehari dia memproduksi hingga empat dus minuman keras, masing-masing dusnya berisi 12 botol minuman keras.

Harga jual setiap botolnya di kisaran Rp25.000. Soal pemasarannya dia mengaku tidak mengetahui karena tugasnya hanya membuat minuman beralkohol.

Sedangkan Masliful Huda, pembuat minuman beralkohol di Desa Tenggeles mengakui minuman keras menyatakan, hasil produksinya dijual ke Jepara dan Kudus. Dia juga mengelabuhi masyarakat saat menyewa gudang dikatakan untuk memproduksi kecap.

Dari gudang untuk memproduksi minuman terlarang tersebut, polisi berhasil menyita dua drum berisi air fermentasi yang totalnya 300 liter, 10 tabung elpiji 12 kg, dua unit tungku masak, empat dus berisi 12 botol arak putih, dan empat jerigen ukuran 25 liter berisi arak putih.

Atas tindakannya itu, kedua pelaku melanggar Pasal 204 ayat (1) KUHP subsider Pasal 142 UU nomor 18/2012 tentang Pangan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun.

(nt)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan