PERANG TERBUKA ANTARA KYAI STRUKTURAL DENGAN KYAI KULTURAL NU WARNAI PILKADA KENDAL

Ketua GP Ansor Kabupaten Kendal, Misbakhul Munir, SPSi.

Kendal, delikjateng.com. Perang terbuka antara kyai sepuh NU ( Kultural ) dengan kyai Struktural NU khususnya ketua PCNU kendal mewarnai pilkada kendal.

Peperangan yang tidak pantas ini terjadi di awali oleh deklarasi ratusan para kyai sepuh NU yang mendukung petahana di pondok pesantren Al Musthofa Pandes, Kendal Jawa tengah pada hari senin, 10/08/20.

Dengan adanya deklarasi tersebut nampaknya ketua PCNU kendal kyai Danial Royyan gerah penggalih dan tidak berkenan, hingga dia sempat melontarkan kalimat yang menurut pihak para kyai sepuh sangat tidak pantas, dan tidak sopan,

“Deklarasi pasangan Tino – Mustamsikin akan dilakukan bersama kyai sungguhan, dan bukan kyai abal-abal,” ucap M.Nasih Syarifudin Pengasuh PP Al Musthofa Pandes menirukan ucapan Ketua PCNU Kendal Kyai Danial Royyan seperti yang dilansir oleh media investigasinews.net.

Terkait dengan peristiwa memalukan itu, Ketua Ansor Kendal, Misbachul Munir SPSi saat dikonfirmasi by Wa mengatakan bahwa terkait dengan beredarnya berita perselisihan antar Kyai di NU ( Struktural dan Kultural) beberapa hari ini
menurut saya pribadi sangat disayangkan sampai terjadinya hal itu, akan tetapi itu merupakan hak mereka juga dalam mengambil langkah politik,

“Justru dengan perbedaan itulah NU secara Jam’iyah membuktikan diri kesaktiannya yang tidak bisa diklaim atas nama seseorang, disini NU memberikan pesan bahwa perbedaan itu Sunnatullah yang tidak bisa diingkari,” terang gus munir.

Selanjutnya Gus munir menuturkan, dalam hal Kyai yang saling dukung calonnya masing-masing, saya teringat ujaran Imam Ghozali sebagai panutan Ahlussunah wal jamaah dalam jalan Tasawwuf, jikalau kita melihat guru sekaliber tokoh itu ibarat kita memandang matahari, matahari yang bersinar sangat terangnya kalau kita lihat secara langsung justru akan menjadikan mata kita kabur dan bahkan gelap, seakan kita buta dengan sekeliling kita, artinya ; Mereka Kyai-kyai itu juga manusia yang tak lepas dari khilaf dan salah dalam bertindak dan sepatutnya kita juga harus bijak dalam menyikapi hal ini, ambil sesuatu yang baik dan tinggalkan sesuatu yang buruk meski datangnya dari seorang kyai, tidak lantas kita mengikutinya dengan fanatik dan kebutaan.

“Munculnya perseteruan antara kyai di kalangan NU memang sering terjadi, tidak hanya dalam hal kontestasi Pilkada di Kendal, saya kira masyarakat sudah bisa mengambil kesimpulan masing-masing. Meskipun diakui maupun tidak, warga Nahdlyin masih sangat menghormati para kyai, tetapi dalam hal pilihan politik, dewasa ini masyarakat sudah bisa menentukan pilihannya masing-masing,” tutupnya.

( A.Khozin)

Leave a Reply