Sorotan Pekan Ini: Petani Tebu Ancam Gelar Unjuk Rasa Nasional

ilustrasi petani tebu
ilustrasi petani tebu

KUDUS,delikjateng.com – Petani tebu mengancam akan melakukan aksi unjuk rasa. Itu bilamana pemerintah tidak berpihak kepada mereka, lantaran beberapa kebijakan yang ada selama ini dianggap merugikan petani tebu.

Kata Sekretaris Jendral Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), M.Nur Khabsyin, alasan hingga petani tebu berencana melakukan unjuk rasa, karena sejumlah upaya yang dilakukan belum juga membuahkan hasil.

” Sebelumnya kami sudah menempuh jalan diplomasi dalam menyampaikan aspirasi, keluhan, jeritan dan permasalahan petani tebu, kepada pengambil kebijakan di Jakarta,” katanya di Kudus.

Tetapi sampai sekarang belum ada hasil yang diharapkan. Akhirnya pengurus DPD dan DPC APTRI se-Indonesia menggelar pertemuan di Surabaya pekan lalu, menyepakati untuk mengadakan unjuk rasa.

” Rencananya, unjuk rasa akan digelar pada 28 Agustus 2017 di Jakarta,” ujar M.Nur Khabsyin.

Aksi itu akan diawali dengan memarkir truk tebu di tepi jalan utama di setiap pabrik gula pada tanggal 24 Agustus 2017. Untuk wilayah Jateng, akan digelar di Kabupaten Pati, Sragen, Tegal dan Brebes.

Melalui penyampaian aspirasi secara terbuka tersebut, diharapkan pemerintah dalam mengambil kebijakan agar berpihak kepada petani tebu dan pergulaan nasional.

” Petani tebu menuntut gula tani dibeli dengan harga Rp11.000 per kilogram, dengan mempertimbangkan hasil rata-rata lelang tahun lalu, serta mempertimbangkan biaya pokok produksinya yang mencapai Rp10.600/kg,” tambahnya.

” Tuntutan lainnya meminta peredaran gula impor di pasaran juga dihentikan. Kami juga menuntut penghentian rembesan gula rafinasi,” ujarnya.

Petani tebu juga akan menagih janji kompensasi dari impor, yakni jaminan rendemen 8,5 persen tahun 2016, kompensasi rendemen rendah tahun 2017, revitalisasi pabrik gula, dan tuntutan agar pabrik gula tidak ditutup sebelum mendirikan pabrik gula baru.

Tuntutan lainnya, terkait pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) 10 persen, karena berpengaruh terhadap tingkat penyerapan gula tani.
“Hingga kini, gula petani belum laku dan masih tersimpan di gudang karena adanya kebijakan pengenaan pajak pertambahan nilai tersebut,” ujarnya.

Jauh sebelumnya APTRI telah bertemu Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Mereka berkeluh kesah atas rendahnya harga gula di tingkat petani.

Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen ketika itu menjelaskan, dalam aturan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27/2017, harga acuan gula tani (HPP) dipatok Rp 9.100/kg dan Harga Eceran Tertinggi (HET) gula di tingkat konsumen adalah Rp 12.500/kg.

Menurut Soemitro, penetapan HPP gula saat ini cukup rendah mengingat biaya pokok produksi (BPP) sebesar Rp 10.600/kg.

Di sisi yang lain, penetapan HET gula sebesar Rp 12.500/kg semakin membuat petani terjepit. Alasannya, pedagang akan menekan harga beli gula petani di bawah Rp 10.000/kg, sehingga harga gula petani bisa turun sampai Rp 9.100/kg.

“Karena HET dibatasi Rp 12.500/kg, pedagang jadi membeli gula petani dengan harga murah di bawah Rp 10.000/kg, bahkan sampai Rp 9.100/kg. Sehingga petani merugi,” keluh Soemitro usai pertemuan yang digelar di Gedung Utama Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, pada Rabu (2/8) lalu.

Petani bertambah rugi karena rata-rata rendemen atau (kadar kandungan gula pada tebu) sangat rendah, yaitu 6-7 persen dengan produksi tebu 70-80 ton/hektare. Hal ini diperparah dengan harga lelang gula tani di musim giling tahun ini lebih rendah dari tahun lalu.

” Tahun ini, harga lelang gula rata-rata sebesar Rp 9.500/kg, sedangkan tahun lalu bisa mencapai Rp 11.500/kg.
Kami mengusulkan kepada Mendag agar mempertimbangkan kenaikan HPP gula tani menjadi Rp 11.000/kg, dan kenaikan HET gula menjadi Rp 14.000/kg,” ujar Soemitro.

Dia mengusulkan HET dinaikkan sekitar Rp 1.500/kg. Angka itu dinilai sama sekali tidak akan memberatkan konsumen. Justru kebijakan ini bisa meningkatkan produktivitas petani tebu secara signifikan.

Selain itu, berdasarkan perhitungan APTRI, konsumsi gula per orang di Indonesia hanya 0,8 kg/bulan. Artinya, jika dalam satu keluarga ada 5 orang, hanya menambah biaya bulanan untuk gula sekitar Rp 7.500.

“Kita juga sempat bertanya ke banyak konsumen, bahwa mereka bilang harga gula sekarang sangat murah. Bandingkan saja dengan tahun lalu harganya bisa Rp 15.000-16.000/kg, bahkan sampai Rp 18.000/kg. Jadi kenaikan jadi Rp 14.000/kg tidak akan memberatkan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan