Sengketa Peternakan : Saksi Yang Dihadirkan Tergugat Untungkan Penggugat

Suasana sidang gugatan perdata No. 04/Pdt.G/2019.PN KDL.

Kendal delik jateng.com –  Memasuki sidang ke 3 gugatan atas sengketa peternakan di Desa Damarjati Sukorejo antara Cong Handoko selaku penggugat terhadap Cong Mulyadi sebagai tergugat telah berlangsung pada hari Senin, (12/8/2019) di Pengadilan Negeri Kendal Jawa Tengah.

Majelis Hakim yang diketuai oleh Irlina SH.MH, dengan anggota Ari Gunawan SH.MH, Robby Alamsyah SH dengan Panitera Pengganti Sukmawati itu dengan agenda melanjutkan sidang gugatan perdata No.04/Pdt.G/2019.PN KDL yang telah memasuki persidangan ke 3 dengan meminta keterangan dari empat orang saksi yang dihadirkan oleh tergugat namun dalam persidangan terungkap bahwa antara saksi satu dengan yang lainya justru memberikan keterangan berbeda.

Rasanya sulit untuk menghindarkan Agus Haryadi (saksi) dari konsekwesi pidana, mengingat bukti yang diajukan didepan Majlis Hakim adalah palsu, hal tersebut terungkap manakala pihak Pengacara Cong Handoko mengkonfirmasi ke pihak Notarisnya.

Sidang yang digelar dari pukul 13.00 WIB dan berakhir pada pukul 17.00 WIB tersebut, ditunda dan akan dilanjutkan lagi pada hari Selasa tanggal 20 Agustus 2019.

Seusai sidang tim Penasehat Hukum cong Handoko yang disampaikan oleh Adi Siswoyo SH MH saat diminta konfirmasinya oleh delikjateng.com terkait dengan munculnya gugatan tersebut, Adi Siswoyo mengatakan bahwa awal dari pada munculnya gugatan di Pengadilan Negeri Kendal ini terjadi akibat sengketa antara Cong Handoko selaku penggugat terhadap Cong Mulyadi sebagai tergugat yaitu bermula dari ketidak jelasan pembagian keuntungan dari hasil usaha peternakan ayam petelur dimana selama usaha tersebut berjalan Cong Handoko belum pernah menerima keuntungan dari Cong Mulyadi.

“Semula Cong Handoko dan Cong Mulyadi telah bersepakat untuk melakukan usaha bersama berupa peternakan ayam petelur dengan menyewa lahan, adapun lahan yang di sewa merupakan lahan bengkok Desa Damarjati Kecamatan Sukorejo upah dari Agus Haryadi sebagai Kaur Umum dimana sewanya selama 10 tahun dimulai tahun 2016 hingga 2026”, Papar Adi.

Team Penasehat Hukum Penggugat dari Adie Siswoyo SH.MH. &Associates

Adi Siswoyo juga menyampaikan bahwa pembayaran sewa lahan tersebut dilakukan oleh Cong Handoko yang diterima langsung oleh Agus Haryadi akan tetapi perjanjian sewa lahan tersebut memang tidak dituangkan di dalam sebuah perjanjian dan hanya tertulis dalam tanda bukti pembayaran atau Kwitansi.

Selanjutnya nya Adi Siswoyo mengatakan bahwa dalam perjalanan usaha ternak ayam tersebut, tanpa sepengetahuan Chong Handoko dan atas inisiatif Cong Mulyadi dan Agus Haryadi keduanya kemudian membuat akta perjanjian sewa lahan di kantor notaris Rifky yang beralamat di Kaliwungu yang isinya mengatakan menyatakan bahwa lahan yang digunakan untuk peternakan ayam tersebut adalah milik Mulyadi bahkan secara sepihak Cong Mulyadi juga memindah tangan kan peternakan tersebut kepada orang lain,

Adie Siswoyo SH.MH.

“Dalam persidangan sebelumnya akta notaris terkait perjanjian sewa lahan yang dibuat Cong Mulyadi oleh Kuasa hukumnya diajukan sebagai barang bukti dan menghadirkan juga saksi-saksi penguat”, kata Adi

Masih menurut Adi Siswoyo untuk memastikan keabsahan Akta Notaris tersebut tim Penasehat Hukum penggugat melakukan klarifikasi pada Kantor Notaris Rifki dalam keterangan tertulisnya pihak Notaris Rifki menyatakan bahwa tidak pernah membuat Akta Notaris perjanjian sewa lahan Nomor 16 tanggal 20 September 2016 dan menegaskan bahwa pihak Notaris tidak mengenal para penghadap yang nama-namanya tercantum di dalam akta tersebut

“Pernyataan tertulis dari Notaris secara otomatis mementahkan keterangan saksi yang menyatakan bahwa perjanjian sewa lahan yang dibuat oleh Cong Mulyadi dan Agus Haryadi adalah benar adanya”, tutup adi

A. Khozin.

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan