OTK Copot Sepanduk Penolakan Galian C berkedok perumahan Desa Blorok

Pemasangan spanduk penolakan Galian C berkedok pengembangan perumahan

Kendal, delikjateng.com. Rencana dibukanya usaha penambangan galian C berkedok perumahan di Desa Blorok membuat suasana di Desa tersebut terasa kurang Kondusif, Kelompok yang pro terhadap adanya penambangan tersebut terus bergerilya melakukan loby-loby terhadap pihak-pihak yang kontra, demikian juga sebaliknya, pihak yang tidak setuju adanya penambangan di desanya, terus melakukan perlawanan dengan mensosialisasikan dampak buruk dan bencana yang akan terjadi saat musim penghujan kepada Masyarakat desa tersebut.

Bahkan berbagai ilustrasi peristiwa alam berupa banjir bandang yang pernah terjadi di berbagai belahan Nusantara ini digunakan sebagai contoh nyata, begitu dahsyatnya bencana yang terjadi akibat rusaknya lingkungan.

Hal yang sama juga dilakukan oleh LSM GMBI, Sebuah LSM yang selama ini terus mendampingi perjuangan rakyat Blorok untuk menolak adanya penambangan di desa mereka.

LSM GMBI mendukung gerakan Masyarakat Desa Blorok

Bersama ratusan warga yang menolak adanya penambangan tersebut, Selasa, (14/05/19) bertempat di sepanjang jalan desa, LSM GMBI bersama Warga beramai-ramai memasang spanduk penolakan adanya penambangan galian C berkedok perumahan yang akan di lakukan sebuah perusahan dari luar kota.

Berdasarkan pantauan delikjateng.com dilokasi, terdapat 4 titik pemasangan spanduk yang berisi penolakan adanya tambang tersebut.

Pemasangan spanduk tersebut ternyata memicu aksi balasan dari pihak yang pro, terbukti dalam beberapa jam saja sepanduk itu di pasang, sudah raib di copot oleh orang tidak dikenal(OTK).

Salah satu warga desa, Didik Arista (30) saat delikjateng.com mengkonfirmasi terkait hilangnya sepanduk yang baru saja dipasang itu, menyampaikan bahwa, di copotnya spanduk penolakan itu tidak akan menyurutkan perjuangan kami untuk menolak keberadaan tambang di desa kami.

“Bukan uang yang kami perjuangkan, tetapi kerusakan Lingkungan yang akan ditimbulkan oleh adanya penambangan tersebut, saat hujan kami takut terjadi banjir bandang, mengingat tanah gunung yang menjadi resapan air hujan sudah di keruk” kata ketua LSM GMBI Kecamatan Brangsong ini.

Banyak contoh yang bisa kita petik sebagai pelajaran, tentang dahsyatnya musibah banjir bandang akibat lingkunganya di rusak, tanah dikeruk, dan pohon-pohon di potong, sehingga air tidak bisa masuk ketanah, akibatnya terjadi banjir bandang”. Kata didik arista sambil emosi.

Didik juga menambahkan, bahwa besuk sepanduk akan dipasang lagi, dan akan di jaga selama 24 jam bergiliran oleh warga”, Pungkasnya

(A.Khozin)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan