Nelayan Beralih Jadi Petani Garam

petani garam
petani garam

BREBES,delikjateng.com – Tingginya harga garam belakangan ini dimanfaatkan nelayan di Kabupaten Brebes, banting setir menjadi petani garam. Ternyata pendapatan diperoleh dirasa lebih menjanjikan.

Kata sejumlah nelayan yang kini fokus menjadi petani garam Desa Sawojajar Kecamatan Wanasari, saat ini sebagai petani garam lebih menjanjikan. Setidaknya lebih menguntungkan dibanding mencari ikan di laut, karena harga garam bahan baku bumbu dapur itu cukup tinggi.

Dengan lahan seluas satu hektare, petani bisa memanen 5 ton garam. Dari hasil jualnya, pendapatan yang mereka terima jauh lebih tinggi dibanding mencari ikan di laut.

Apalagi pada musim sekarang berangin, tidak ada ikan besar di pinggiran laut. Air laut sedang dingin sehingga nelayan kesulitan menangkap ikan di pinggiran.

” Makanya banyak nelayan fokus jadi petani garam karena pas mahal harganya. Nanti kami kembali jadi nelayan rajungan pada saat memasuki musim hujan,” kata Dastam.

Saat ini mereka menikmati bekerja sebagai petani garam karena harga jual garam cukup tinggi. Rata-rata mencapai Rp4 ribu/ perkilogram, jauh lebih bagus dari harga sebelumnya Rp500 per kilogram.

Proses pembuatan garam lebih mudah, dimulai dengan menampung air laut selama sekitar sepekan pada petak penampungan, hingga terjadi perubahan kondisi air. “Air tampungan lalu dialirkan ke petak lain untuk kristalisasi. Satu petak lahan garam bisa dipanen berulang kali. Setiap satu pekan kami dapat memanen garam hingga 10 petak pada lahan sekitar satu hektare,” katanya.

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan