Lopis Raksasa di Syawalan Lebaran Pekalongan

Proses pembuatan lopis raksasa

Kota Pekalongan akan meningkatkan wisata tradisi yang telah berjalan dan menjadi kebanggaan wong Pekalongan khusus nya di Kota Pekalongan”,
Tradisi turun temurun puluhan tahun ,Dua pasangan yang serasi menjadi primadona nya tradisi Lopis Raksasa dan Balon”,
Syawalan hari lebaran sepakan merupakan Puncak nya wisata lopis raksasa terpampang dan dipersilahkan pengunjung untuk menikmati lopis buatan masyarakat krapyak, Balon terbang diterbangkan menghiasi angkasa”,
Namun nampak nya Pemerintah Pekalongan akan mengembangkan syawalan wisata menghilangkan balon terbang pengganti nya Balon tambat”,
Balon tambat bebas dari marabahaya dan menciptakan tradisi inovasi dan kreatif Hal tersebut membentuk tradisi nyaman dan dapat menikmati wisata syawalan”,Masyarakat Krapyak peduli dengan tradisi lopis raksasa dijaga dan lestarikan ,Karena hal lopis tersebut peninggalan dari ulama besar yaitu kyai siroj asli orang krapyak”,

Koordinator Panitia Syawalan Krapyak Kidul, Muhammad Fahrudin, mengungkapkan ukuran lopis raksasa pada Syawalan tahun ini dibuat lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bahan bakunya yakni beras ketan dimana tahun kemarin hanya 3,7 kwintal, tahun ini ditambah bahan bakunya menjadi 5 kwintal. Sehingga, Alhamdulillah ukurannya juga bertambah dengan tingginya dulu 180 cm, tahun ini ada peningkatan 20 cm menjadi 200 cm, diameter tetap sama 250 cm,” tutur Fahrudin saat ditemui di lokasi pemotongan lopis depan panggung halaman Mushola Darunnaim, Krapyak Sumbawan Gang 8, Krapyak Kidul, Selasa (11/06/2019)

Diterangkan Fahrudin, pembuatan lopis raksasa di Kelurahan Krapyak Kidul ini menghabiskan waktu selama tiga hari tiga malam.

Hari pertama, proses pembuatan dimulai dari penanakan beras ketan, dilanjutkan merangkai daun pisang dan bambu, kemudian menumbuk beras ketan yang setengah matang. Setelah itu, dimasukkan ke wadah setahap demi setahap. Proses tersebut membutuhkan waktu 10 jam,” jelas Fahrudin. Pada Jumat petang, lopis tersebut telah dimasukkan ke dandang raksasa dan siap direbus. Setelah direbus seharian penuh, lopis kemudian dibalik dan dimasak kembali pada hari kedua petang,” papar Fahrudin.

Hari terakhir, lanjut Fahrudin, lopis raksasa tersebut berhasil diangkat. Pihaknya menuturkan pembuatan lopis raksasa ini menyerap anggaran sekitar Rp30 juta dari bantuan Pemerintah Kota Pekalongan sebesar Rp 24 juta dan sisanya merupakan swadaya masyarakat.

“Proses memasak lopis raksasa ini yang paling sulit adalah mengontrol api agar tetap stabil. tidak boleh terlalu besar maupun terlalu kecil. Karena jika tidak seperti itu, uap air yang dihasilkan akan surut, dan proses penguapan maupun ukurannya tidak akan sesuai yang diharapkan,” imbuh Fahrudin.

Dilain pihak, Koordinator Panitia Syawalan Krapyak Lor Gang 1, Ahmad Timbul menjelaskan mengenai ancaman rob yang kerap terjadi di Kelurahan Krapyak, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi dengan melakukan penyedotan dengan pompa agar pada saat hari H pemotongan lopis raksasa dapat berjalan lancar.

“Lokasi pemotongan saat ini memang msdih dikelilingi rob namun akan kami sedot dengan pompa agar kering saat hari H,” jelas Timbul.

Timbul menerangkan pembuatan lopis raksasa di Krapyak Kidul juga menghabiskan bahan baku beras ketan

“Proses pembuatan tiga hari tiga malam dengan diameter 83 cm, tingginya 200 cm, berat 1 ton lebih membutuhkan beras ketan 5 kwintal, daun untuk membungkus sekitar 20 pelepah. Selama proses pembuatan Alhamdulillah tidak ada kendala, dapur untuk memasak sudah ditinggikan jadi sudah aman,” pungkas Timbul.

(Tasurun)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan