Desa Blorok Brangsong Bergolak Lagi

Pemuda Blorok Brangsong didampingi LSM GMBI memasang spanduk penolakan

Kendal, delikjateng.com. Ratusan Pemuda Desa Blorok Kecamatan Brangsong Kendal Jateng masih konsisten melakukan perlawanan terhadap rencana galian C berkedok perumahan didesanya, bertempat disepanjang jalan desa, mereka memasang spanduk untuk kedua kalinya yang berisikan penolakan terhadap rencana proyek perusak lingkungan tersebut. Sabtu, (08/06/19).

Aksi yang di sokong oleh para tokoh Perantau yang mudik itu di dominasi oleh anak muda dan GMBI Kec. Brangsong tersebut mengusung 3 tuntutan.

Yang pertama: menolak dengan keras, adanya galian C yang berkedok perumahan.

Yang kedua: Setuju adanya pembangunan Perumahan didesa kami, selama tidak ada matrial apapun yang keluar dari lokasi perumahan.

Yang ketiga : apabila spanduk yang dipasang ini hilang dan dicopot oleh pihak-pihak tertentu, maka akan dilaporkan Kepada Pihak yg Berwajib.

Perlu diketahui bahwa munculnya ontran-ontran di Desa Blorok ini disebabkan oleh rencana PT CSP yang ingin membuka Perumahan di Desa tersebut, namun dalam pelaksanaan di lapangan muncul kecurigaan dari Masyarakat bahwa Pembangunan Perumahan di Desa tersebut hanya kedok saja, mengingat desa Blorok termasuk daerah yang jauh dari Pusat Pemerintahan, Pusat Perdagangan serta Pusat Industri.

Pemasangan spanduk penolakan

“Rasanya aneh kalau daerah yang konter tanahnya berupa pegunungan akan dijadikan perumahan, sedangkan tanah diluar Desa Blorok banyak yang strategis, yang bisa dijadikan lokasi perumahan”. Kata Ketua GMBI Kecamatan Brangsong Didiek Ariesta.

“Dalam Perda RT/RW Daerah Blorok adalah daerah zona merah, karena masuk daerah resapan air”, imbuh Aries aktifin GMBI yang selama ini melakukan pendampingan terhadap warga Blorok.

Disisi yang lain, munculnya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak PT.CSP akan adanya penjualan sisa matrial dari daerah lokasi perumahan, Membuat warga yang kontra meradang, mengingat aturan mainya, bila sebuah lokasi akan di bangun sebuah perumahan, maka tidak boleh ada matrial yang keluar dari lokasi, apalagi ada penjualan matrial.

Penjualan Matrial inilah yang sebetulnya memicu kecurigaan dari masyarakat, bahwa sesungguhnya pembangunan perumahan itu hanya sebuah kedok saja.

Terhadap adanya persoalan tersebut, pihak-pihak terkait bukanya tinggal diam, mereka sudah berusaha untuk mempertemukan para pihak yang bersengketa, namun sampai hari ini belum mendapatkan titik temu.

Khozin Al Ahmed.

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan