DEMI CEGAH MELUASNYA VIRUS CORONA, TRADIS SYAWALAN TAHUN INI DI TIADAKAN

Lokasi syawalan yang kosong

Kendal, delikjateng.com. Semakin meluasnya penyebaran virus corana di Kendal direspon cepat Oleh Forkompimcam Kaliwungu, salah satu responya adalah dengan meniadakan tradisi Syawalan yang biasanya dilaksanakan paska lebaran ied.

Respon cepat juga dilakukan oleh pemdes Kutoharjo dengan mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa untuk tahun ini, tradisi syawalan ditiadakan, sampai dengan berita ini ditayangkan, diarea lokasi syawalan terbukti tidak ditemukan adanya eksodus pedagang yang datang dilokasi yang biasa digunakan.

KH. Muhibbudin Mahfudz

Menghadapi hal tersebut, salah satu ulama sepuh KH. Muhibbudin Mahfudz Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Quran Kaliwungu mengatakan pada media delikjateng.com, bahwa keputusan untuk meniadakan tradisi syawalan tahun ini tentunya sudah dikaji dari berbagai aspek.

“Keputusan meniadakan syawalan tentu demi kebaikan bersama, selain untuk mencegah menyebarnya virus corona, juga patuh pada himbauan Pemerintah, adapun soal pro kontra, itu biasa”, kata simbah kiyai muhib, Selasa, 26/05/20 dirumahnya.

Gus Tommy Anggota DPRD II Kendal

Sementara itu, Gus Tommy Anggota Komisi A DPRD dari partai Golkar menyampaikan, keputusan Pemda dan Pemdes untuk meniadaan tradisi Syawalan di maksudkan agar tidak terjadi penularan virus lewat kontak fisik, karena mau tidak mau yang namanya syawalan pasti akan terjadi tumpukan ribuan massa.

“Keputusan sudah di musyawarahkan di forum, termasuk sudah dibahas dengan para kyai dan Ulama sepuh Kaliwungu”, tandasnya.

Perlu diketahui bahwa tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal sendiri biasanya didatangi ribuan orang yang akan berziarah ke Makam Kyai Guru dan Sunan Katong, sang penyebar agama Islam di Kaliwungu Kendal.

Selain melakukan ziarah ke makam para ulama, tradisi sawalan biasanya diisi dengan aneka kuliner, aneka permainan, serta musik dangdut.

( HAK )

Leave a Reply