Tipu Bawahan Kepala Rupbasan Kota Pekalongan Ditahan

Toga sempat menangis dan terus menutupi wajahnya dengan jeket yang dikenakannya ketika digiring petugas Kejaksaan menuju Rutan kelas IIA setempat .foto:firga/DJ
Toga sempat menangis dan terus menutupi wajahnya dengan jeket yang dikenakannya ketika digiring petugas Kejaksaan menuju Rutan kelas IIA setempat .foto:firga/DJ

Liputan Firga Fajar

PEKALONGAN, delikjateng.com- Toga Maruli Sibarani, bisa jadi tak pernah menyangka kariernya sebagai PNS di Kemenkumham bakal bermasalah di Kota Pekalongan. Kepala Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Pekalongan itu resmi ditetapkan sebagai tersangka sekaligus ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Pekalongan dalam kasus dugaan penipuan.

Pria asal Medan, Sumatera Utara, itu sempat sempat menangis dan terus menutupi wajahnya dengan jeket yang dikenakannya ketika digiring petugas Kejaksaan menuju Rutan kelas IIA setempat. “Yang bersangkutan (Toga) sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sesuai Surat Perintah Penahanan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan, tersangka kami tahan untuk 20 hari ke depan,” ujar Kasi Intel Kejari setempat, Suherman.

Menurut Suherman, sebelumnya Toga sempat menolak ditahan dengan berdalih tidak didampingi pengacara. Namun, setelah diberi pemahaman tersangka yang datang bersama isterinya, Meicen, tak kuasa menahan tangis ketika digiring ke rumah tahanan. Sebelumnya, kesehatan Toga sempat diperiksa di Dokkes Polresta Pekalongan dan dinyatakan sehat.

“Penahanan sudah sesuai dengan Pasal 21 KUHAP, karena tersangka dikhawatirkan melarikan diri, mempengaruhi saksi-saksi, atau menghilangkan barang bukti serta sejumlah pertimbangan lainnya,” tegas Suherman. Apalagi, tersangka sebelumnya sudah tiga kali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan.

Sikap tegas Kajari Pekalongan, Mahatma Sentanu, SH ini mendapat sambutan positif dari jajaran Rupbasan Pekalongan. Beberapa staf prianya tak segan menggunduli rambut untuk menunjukkan kegembiraan sekaligus dukungan bagi kejaksaan. “Lega, masalah yang bikin resah staf Rupbasan ini sekarang sudah diproses sesuai hukum,” ujar seorang staf Rupbasan kepada Delik. Semula, lanjutnya, ada kekhawatiran kasus yang awalnya dilaporkan ke Polisi ini akan menguap begitu saja, mengingat jabatan Toga, sudah barang tentu banyak berhubungan dengan aparat penegak hukum..

Namun, menurut sumber lainnya, karena berbagai pertimbangan, polisi akhirnya melimpahkan penanganan perkara dugaan penipuan ini ke Kejaksaan. Dan Kejaksaan bergerak cepat untuk menuntaskannya, setelah melakukan koordinasi dengan fihak-fihak terkait. Salah satunya dengan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah.

Untuk kelengkapan penyidikan, ujar Suherman, Kejaksaan telah memeriksa 13 orang saksi. Delapan diantaranya bawahan Toga dan pegawai Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah. “ Sejauh ini kami baru menetapkan satu tersangka. Keterlibatan istrinya masih kami dalami,” tegas Suherman, seraya menambahkan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain, bila hasil pendalaman kasus mengindikasikannya.

Kasus yang mencoreng jajaran Kemenkumham ini bermula pada pertengahan tahun 2016 silam. Saat itu, Toga menawarkan promosi jabatan kepada dua bawahannya, Gunawan dan Eri Purwanti, asal dapat menyediakan pelicin antara Rp.50 juta –Rp.75. juta. Percaya kepada atasan langsung, kedua PNS tersebut lantas mengupayakan permintaan Toga, termasuk mengajukan pinjaman ke bank.

Untuk lebih meyakinkan, dalam bulan April-Oktober 2016, Toga menerbitkan usulan promosi jabatan anak buahnya tersebut. Namun, ketika SK Kolektif turun bagi jabatan eselon IV dan V pada bulan Desember, nama Gunawan dan Eri Purwanti tak termasuk.

Merasa sudah menyerahkan uang, keduanya mempertanyakan nasibnya kepada Toga. Saat itu, Mei Cen, istri Toga menyuruh keduanya bersabar karena masih ada mutasi dan promosi berikutnya di bulan Januari 2017. Namun, sampai waktu yang dijanjikan, nama keduanya kembali tak tertera.

Sadar ada yang tak beres, kedua pegawai Rupbasan Pekalongan itu mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan dengan Toga. Namun bukan penyelesaian yang didapat, “Saya dan Pak Gunawan malah dicaci maki dengan kata-kata kasar oleh Pak Toga,” jelas Eri.

Begitupun saat masalah “jual beli” jabatan ini dibawa Eri dan Gunawan ke Kanwil Kemenkumham di Semarang, tetap tak ada itikad baik Toga untuk merampungkannya. Saat itu, Toga hanya diberi pembinaan oleh Kanwil. Sementara masalah duit puluhan juta Eri dan Gunawan terus saja dikemplang.

Merasa kesal dipermainkan, kedua bawahan tersebut pada Februari 2017 lalu, melaporkan atasannya ke Polresta Pekalongan. Setelah didalami, perkara dugaan penyalahgunaan wewenang, jual beli jabatan dan atau penipuan itu diatur dan diancam hukuman dalam UU no.20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. “Makanya, oleh Polres laporan itu diteruskan ke Kejaksaan,” ujar sumber Delik.

Mendapat pelimpahan laporan perkara itu, Kejaksaan segera melakukan penyelidikan dan meminta keterangan saksi dan pelapor, serta mengumpulkan bukti. Termasuk meminta data kredit pelapor dan transaksi pelicin itu di bank terkait. Setelah memperoleh bukti permulaan yang cukup, Kejaksaan melayangkan panggilan kepada terlapor, karena perkaranya telah naik ke tahap penyidikan.

Toga yang akhirnya datang memenuhi panggilan bersama isterinya, tak mengira jika Kejaksaan telah menerbitkan Surat Perintah Penahanan Sprin-206/O.3.12/FT.1/04.2017 tertanggal 20 April 2017, atas namanya. Makanya, “Dia mungkin shock, akhirnya menangis, malu dan tertekan karena sebelumnya merasa tidak akan ditahan,” ungkap Suherman, dan menambahkan, sebelum 20 hari kedepan atau masa tahanan barakhir, Kejaksaan akan menyelesaikan berkas perkara Toga untuk dilimpahkan ke Pengadilan.

Tinggalkan Balasan