Almarhum Dokter Hery Prasetyo “Motor” Pengambilan Swab di RSUD Blora

Lilik Hernanto, SKM, M.Kes

Blora, delikjateng.com – Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Kabupaten Blora Lilik Hernanto, SKM, M.Kes menjelaskan almarhum dokter Hery Prasetyo adalah seorang dokter yang pertama kali dilatih pengambilan swab test dari RSUD dr R Soetijono Blora di provinsi Jawa Tengah.
“Beliau ini saya rasa betul-betul pejuang Covid-19 yang benar-hanar kita harus angkat topi kepada almarhum, karena tugasnya luar biasa. Beliau dokter pertama yang kita latih di RSUD dr R Soetijono Blora untuk pengambilan swab di provinsi beberapa waktu lalu. Jadi dia yang menjadi motornya pengambilan swab di RSUD Blora,” terang Lilik Hernanto yang juga Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Kamis (12/8/2020).
Jadi, lanjutnya, dari tugas itu pasti mempunyai risiko yang besar terhadap yang bersangkutan.
Menurut dia, almarhum dokter Hery Prasetyo, pada minggu lalu sakit, dia punya klinik sendiri, kemudian dibawa ke RSUD Blora di UGD. Kemudian kita lihat kondisinya sudah memburuk sehingga perlu perawatan serius.
“Pada saat itu ruang isolasi di RSUD Blora sudah penuh, akhirnya dirujuk di RSU Rembang, Sabtu (15/8/2020). Beliau sempat dirawat disana. Kondisinya memang sudah pakai ventilator. Dirawat selama empat hari, dan meninggal dunia pukul 18.18 WIB, Rabu (19/8/2020). Jadi sempat satu minggu, dua hari di klinik dan empat hari di rumah sakit,” ungkapnya.
Menurut Lilik, dari hasil uji polymerase chain reaction (PCR) swab test menunjukkan positif Covid-19 Sedangkan penyakit penyerta yang diderita dokter Hery adalah diabetes mellitus.
Lilik Hernanto menyebut darimana almarhum dokter Hery Prasetyo terpapar Covid-19 segera diteliti dan dilakukan pengecekan.
“Kalau soal darimana, tentunya akan kita teliti, kita cek. Karena beliau ini dokter yang bertugas langsung di RSUD Blora sebagai petugas pengambil swab kepada para suspek dan tersangka Covid-19. Ini yang risiko pertama,” kata dia.
Kemudian yang kedua, karena almarhum dokter Hery punya klinik mandiri di wilayah kecamatan Blora.
“Jadi ada beberapa risiko yang memang bisa terjadi penularannya, di RSUD Blora atau di tempat kerja yang lain. Atau kontak dengan orang dan masyarakat yang lain, misalnya pasien dan sebagainya,” lanjutnya.
Berkaitan dengan penerapan protokol kesehatan di rumah sakit, kata Lilik, secara umum ada dua. Secara internal di unit baik di Puskesmas atau rumah sakit sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Khusus untuk semua petugas, sudah menggunakan SOP untuk masing-masing petugasnya. Misalnya Alat Pelindung Diri (APD) pada level berapa. Di level tiga, itu untuk yang berisiko tinggi. Seperti dokter Hery ini semestinya sudah menggunakan APD sesuai standar di tugasnya,” jelasnya.
Berikutnya, untuk tempat area tertentu yang di rumah sakit yang sudah dipetakan, seperti zona merah yang tidak boleh dilewati semua orang. Atau zona kuning, hijau, orange yang bisa dilewati orang.
Sedangkan untuk eksternal, di rumah sakit sudah diberlakukan tidak ada boleh ada pengunjung atau penunggu pasien.
“Ini aturan yang sudah dijalankan, tetapi bagaimanapun intensitas seseorang, khususnya dokter, tentunya almarhum ini sangat luar biasa. Jadi tidak menutup kemungkinan tugas itu mempunyai risiko yang besar terhadap yang bersangkutan,” tambahnya.
Pasca meninggalnya dokter Hery, menurut Lilik Hernanto, sesuai dengan SOP akan dilakukan tracing, ditelusur kontak erat dengan almarhum, baik di keluarga, tempat tugas di RSUD Blora maupun di klinik yang bersangkutan.
“Itu jelas kita lakukan, karena sebelum meninggal pada Rabu pagi, kami baru dapat kabar dari RSUD Rembang kalau memang hasil swab test nya positif. Jadi langung kita bergerak. Kita lakukan tindakan secepat mungkin, kita tracing, kita lakukan swab kepada kontak erat,” terangnya.
Untuk mencegah tidak terjadinya klaster baru di RSUD Blora, lanjut Lilik, di rumah sakit sudah memetakan zona tertentu yang bisa dilalui atau tidak boleh dilewati oleh orang lain karena menjadi sumber penularan.
“Karena kita tahu tempat berkumpulnya orang sakit disana sangat berisiko. Banyak kuman, virus, bakteri yang ada disana,” ucapnya.
Sehubungan dengan klinik yang dimiliki dokter Hery, menurut Lilik, juga dilakukan tracing kepada para tenaga kesehatan dan keluarganya.
“Jadi tracing ini adalah kontak erat dalam 14 hari terakhir dengan almarhum. Dalam masa inkubasi itu kontak dengan siapa saja,” tegasnya.
Sesuai protap, tambahnya, berlaku untuk seluruh nasional di Indonesia ini, kalau memang conform positif Covid-19 yang mempunyai gejala sedang atau berat, dipastikan harus dalam pengawasan dokter rumah sakit.
“Harus diawasi, dirawat di rumah sakit. Tetapi bagi pasien-pasien positif tetapi dia tidak punya gejala, atau gejala ringan saja itu sesuai SOP bisa isolasi mandiri di rumah. Istirahat di rumah. Kalau sudah 10 hari tetap tidak ada gejala, sudah bisa selesai isolasi,” terangnya.
Tetapi, hal ini, memerlukan kedisiplinan yang bersangkutan, termasuk keluarga dan lingkungan untuk menjaga supaya tertib.
“Supaya tidak keluar rumah, sehingga tidak menularkan ke orang lain. Termasuk keluarga yang ada di rumah itu sendiri,” jelasnya.
Dijelaskannya, hingga saat ini ada 12 paramedis di Puskesmas se Blora yang terpapar Covid-19.
“Yang meninggal dunia baru satu orang, yakni dokter Herry. Tapi untuk di RSUD Blora ada dokter dan perawat , tetapi mereka sudah sembuh dan di Puskesmas ada beberapa paramedis jumlahnya ada 12 paramedis. Mereka semuanya sudah sembuh,” jelasnya.
Terkait protap dan layanan kesehatan di Puskesmas, menurut dia, sesuai dengan protokol kesehatan, petugas sudah paham SOP. Tidak hanya 3M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak tetapi juga APD yang dipakai bagi petugas.
“Di posisi mana, risiko berapa, harus memakai APD level berapa. Itu sudah kita terapkan di masing-masing layanan kesehatan baik Puskesmas dan rumah sakit,” kata Lilik Hernanto.

(Arief.W)

Leave a Reply