Rekonstruksi Kasus Tewasnya Nanda

rekontruksi,nanda
Suasana rekonstruksi (foto delikjateng)

TEMANGGUNG,delikjateng.com – Kasus tewasnya Nanda akibat dianiaya dua anggota Suporter PSS Sleman Brigata Curva Sud (BCS), direka ulang di halaman Polres Temanggung. Dua tersangka Hermawan Sugiyanto alias Plongoh dan Wahyu Adji Bayu Prasetyo adalah warga Sleman Yogyakarta.

Rekonstruksi dipimpin Kasat Reskrim AKP Dwi Haryadi, di hadiri Kajari Sisca SH dan penasehat hukum tersangka Catur SH. Mereka menjalani setidaknya 18 adegan.

Adegan dimulai dari posisi duduk di dalam bus Aspada yang ditumpangi dari Banyumas menuju ke Sleman pada Minggu (23/7) pagi. Saat melintas di dekat jembatan Desa Bengkal, Temanggung. Plongoh duduk di bagian depan kiri sopir sedangkan Wahyu duduk di atas ban di bagian belakang, turun dari bus untuk mencari orang yang melempar bus hingga kaca tengah kanan pecah.

Plongoh membawa pralon sepanjang 50 cm berisi cairan semen yang ujungnya dipasangi paku, sedangkan Wahyu tangan kosong. Mereka menjumpai Marga Damar Sabyoto dan Ricky Ari Setyawan warga setempat, yang mengendarai sepeda motor GL. Keduanya dianiaya hingga menyebabkan luka. Beruntung mereka berhasil melarikan diri meski dengan sejumlah luka.

Bus berjalan lagi, tapi sampai pertigaan Pare melihat ada dua warga dipinggir jalan, yakni Andre Nur Rahmat dan Muhammad Nur Arnanda. Bus diminta berhenti, mereka turun lalu menganiaya keduanya.

Andre mengalami luka memar di kepala bagian belakang, sedangkan Nanda luka tusuk bagian rusuk sebelah kiri dibawah ketiak. Korban berhasil melarikan diri menuju ke perkampungan. Namun Nanda meninggal karena lukanya yang parah.

Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo mengatakan, rekonstruksi penganiayaan ini sengaja dipindah dari TKP ke halaman Mapolres karena faktor keamanan. Kegiatan itu untuk mendapatkan gambaran kejadian, sebelum diserahkan ke Kejaksaan Negeri untuk selanjutnya di limpahkan ke Pengadilan Negeri.

“Pada rekonstruksi ini ada sejumlah tambahan adegan, itu didasarkan keterangan dari tersangka,” kata kapolres usai rekonstruksi, Selasa (22/9). Tersangka dijerat pasal 351 KUHP pidana dengan ancaman tentang penganiayaan dengan ancaman lima tahun penjara.

Mereka yang ditahan ini sebagai tersangka pengeroyokan, sedangkan pelaku penusukan dan pengeroyok lainnya masih dalam buron kepolisian. “Kami masih memburunya, identitas mereka ada, tapi melarikan diri,” katanya.

Dikatakan rekonstruksi dipindahkan dari TKP ke halaman Mapolres untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, seperti timbulkan kemarah warga pada tersangka.(nariyono)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan