Penyandang Tuna Rungu Berkarya Memanfaatkan Limbah Kain

MEMBUAT BROS: Para crafter dari Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar), mengajari anak-anak Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung,

TEMANGGUNG, Delikjateng.com – Komunitas Temanggung Bikin Karya (Tembikar),mengisi kegiatan di bulan Ramadhan dengan kegiatan sosial memberikan pelatihan kepada penyandang tuna rungu di Pesantren Tuna Rungu Abata Temanggung, membuat kerajinan berupa bros yang terbuat dari limbah kain perca. Sabtu (25/5).

Peni Dinar salah satu pegiat Komunitas Tembikar mengatakan, Pelatihan gratis tersebut dilakukan demi menunjang masa depan para penyandang distabilitas khususnya yang ada di Abata Temanggung.

“Untuk mengisi Ramadan Tembikar bekerjasama dengan Pondok Pesantren khusus putri Tuna Rungu Abata memberikan pengetahuan sekaligus praktik keterampilan membuat bros. Ini sebagai awalan sekaligus membumikan Tembikar di masyarakat, “ujarnya .

Tak disangka, kendati berkebutuhan khusus namun anak-anak ini tak kalah dengan anak normal pada umumnya. Hampir tidak ada yang menemui kesulitan, meskipun dalam pengantarnya perlu pendampingan para ustadzah Abata yang sesekali menerjemahkan kalimat yang dimaksud dari para crafter Tembikar.

Aqila (9), salah satu penyandang tuna rungu Pesantren Abata mengaku senang diajari membuat bros oleh kakak-kakak dari Tembikar. Dia yang berasal dari Bogor Jawa Barat ini merasa tidak menemui kesulitan saat membuat bros, hanya saja perlu kejelian.

“Senang diajari membuat bros, ini langsung saya pakai brosnya cantik. Sekarang saya sudah bisa membuat sendiri setelah diajari sama Kak Nana Mardyana,”kata Aqila sedikit terbata-bata, sembari menebar senyum.

Kepala Pesantren Abata Temanggung Nur Sauminah menuturkan, memang 24 anak di Abata dari rentang usia 6 sampai 14 tahun sangat membutuhkan keterampilan. Hal itu untuk mendukung pendidikan di Abata yang berbasis kurikulum pesantren yang harus hafal Alquran juz 30, bisa membaca tulis Alquran, doa sehari-hari, termasuk melatih untuk berpuasa.

“Alhamdulillah kami sangat senang sekali dan sangat berterimakasih, sebab anak-anak sangat butuh keterampilan, ini yang kami butuhkah karena di Indonesia itu belum begitu “care” dengan anak-anak distabilitas khususnya tuna rungu, harapan kami bisa mandiri. Saya lihat subhanallah tidak ada satu pun yang nangis, kecewa atau putus asa. Sebab kalau pas pelajaran biasa saat sesi keterampilan anak-anak ada yang mengerjakan tetapi kurang telaten kadang-kadang jadi nangis,”katanya.

(Suchafif)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan