Pedagang Daging Ayam di Temanggung Mogok, di Salatiga Demo

Lapak daging ayam potong di Pasar Legi Parakan melompong (foto nt)

TEMANGGUNG, delikjateng.com – Memasuki hari ke dua pada Senin (23/7), para pedagang daging ayam potong di semua pasar tradisional Kabupaten Temanggung, mogok berjualan. Sementara di Salatiga, Ratusan pedagang ayam unjuk rasa dan menggeruduk Kantor DPRD Kota Salatiga, Senin (23/07)

Dampak dari mogoknya pedagang daging ayam di Temanggung, menjadikan para pemilik warung makan yang berkaitan dengan ayam juga tak bisa berjualan. Mogok jualan pedagang daging ayam itu dimulai sejak Minggu (22/7). Lapak jualan mereke di tiga pasar kota seperti Temanggung, Parakan dan Ngadirejo kosong.

Pedagang daging ayam di Pasar Kliwon Rejo Amertani Kota Temanggung, menjelaskan, tidak berjualan karena pemasok daging ayam dari tempat pemotongan hewan setempat berunjuk rasa di Magelang. “Tidak ada satu pun pemasok daging ayam yang berangkat berjualan, jadi kami tidak bisa berjualan,” katanya.

Menurut dia, unjuk rasa yang dilakukan oleh para pemasok daging ayam ini karena harga ayam hidup terus melonjak. Biasanya pada kondisi normal harga ayam ras hidup berkisar antara Rp18.000/kg hingga Rp20.000/kg.

Namun saat ini harga ayam ras hidup dijual dengan harga Rp25.000/kg, bahkan informasi yang diterima oleh para pemasok daging ayam potong, naik lagi menjadi Rp30.000/kg.

“Hal ini yang membuat kesal para pemasok daging ayam potong, harga ayam ras hidup terus naik. Oleh karena itu mereka melakukan unjuk rasa,” katanya.

Tingginya harga sudah terjadi sejak bulan Ramadan lalu, kemudian puncaknya terjadi saat perayaan Idulfitri 1439 H. Harga tersebut hingga kini belum menyusut signifikan. Bahkan harga ayam hidup cenderung mengalami kenaikan terus sehingga harga jual daging ayam juga ikut mengalami kenaikan.

Pedagang yang lain Nana menuturkan biasanya harga daging ayam potong akan mengalami penurunan harga setelah perayaan Idulfitri. Namun hingga saat ini harga ayam ras masih mahal. “Karena dari pemasok harganya belum turun, maka saat ini harga daging ayam juga belum turun,” katanya.

Ia menyebutkan daging ayam masih dijual di atas Rp35 ribu per kilogram, padahal biasanya saat sudah menginjak sebulan pascalebaran harganya sudah normal kembali menjadi Rp30.000/kg. “Sekarang Lebaran sudah lewat sebulan lebih, tetapi harga daging ayam masih tinggi. Bagi pedagang ini cukup merugikan, karena daya beli menjadi rendah,” katanya.

Di Salatiga, para pedagang menuntut pemerintah turun tangan mengatasi kenaikkan harga ayam yang berimbas pada harga jual daging ayam di pasaran. Mereka menuding adanya dugaan permainan dari mafia perdagangan ayam.

Mereka mengaku kesulitan mendapatkan ayam, neski pengecekan di beberapa kandang, stok ayam banyak. ” Makanya kami menduga ada mafia bermain dan menyulitkan kami semua,” kata Deni Pambudi (35) seorang perwakilan pedagang ayam saat beraudensi dengan wakil rakyat di DPRD Salatiga.

Beberapa pedagang telah mengecek stok ayam di beberapa kandang, menemukan stok ayam di kandang banyak dan siap panen. Setelah ditanyakan kepada pengelola pengelola kandang, katanya pihak PT (pemodal) belum mengizinkan ayamnya di keluarkan (dijual) alasannya ayamnya masih kecil.

(suchafif/narto)

Leave a Reply