Meski Dilarang, Masih Ada Warga Terbangkan Balon Udara

balon udara
ilustrasi warga menerbangkan balon udara

Liputan Tim Biro Kedu

WONOSOBO,delikjateng.com – Penggemar balon udara di Kabupaten Wonosobo, ternyata masih ada yang mengabaikan larangan menerbangkan balon udara. Mereka tetap melakukannya secara sembunyi-sembunyi, walaupun dengan ukuran yang kecil dan dalam jumlah yang tidak banyak.

Sebagian masyarakat  menganggap menerbangkan balon udara sudah menjadi tradisi tahunan, khususnya pada hari lebaran. Mereka mengaku tidak ambil pusing dengan munculnya larangan penerbangan balon hias.

Meskipun jumlahnya tidak banyak, namun saat jelang lebaran masih ada balon udara berbagai jenis menghiasi langit kabupaten wonosobo. Sementara beberapa balon lainya gagal diterbangkan karena diamankan petugas.

Berkaitan dengan hal itu, Petugas Polres Wonosobo kembali turun ke lapangan menegaskan larangan penerbangan balon udara. Petugas tak hentinya memberikan pengertian bila balon udara membahayakan penerbangan sipil.

Sementara itu Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adisucipto Yogyakarta, Mayor Sus Giyanto mengatakan, setidaknya aktivitas 19 penerbangan pesawat yang beroperasi di Bandara International Adisutjipto Yogyakarta terganggu akibat adanya balon udara.

“ Dari dua hari saja sejak Minggu sampai Senin (25-26/6), ada 19 penerbangan yang terganggu akibat balon udara itu,” katanya kepada wartawan di Sleman, Yogyakarta pada Selasa (27/6).

Data Lanud yang diterima dari Airnav Indonesia Cabang Yogyakarta,  untuk Minggu (25/6) atau hari pertama Lebaran terjadi gangguan pada pukul 01.12 WIB terhadap pesawat Wings Air nomor penerbangan WON 1905. Saat itu pesawat rute Solo-Bandung terganggu ketika ada balon udara saat ketinggitan 8.000-15.000 feet.

“Untuk hari kedua Lebaran (26/6) lebih banyak lagi gangguan mencapai 10 kali. Rata-rata balon udara itu diterbangkan dari wilayah Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purbalingga, Kebumen, Purworejo, Cilacap, dan ada satu dari Kulonprogo,” papar Kapentak.

Dia berharap masyarakat yang daerahnya memiliki tradisi menerbangkan balon udara, harus berhati-hati dan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

General Manager Air Nav Indonesia Cabang Yogyakarta, Nono Sunariyadi menjelaskan, balon udara dapat mengganggu keselamatan penerbangan karena ukuran balon sangat besar (diameter 5-10 meter atau lebih), dan mampu terbang sampai ketinggian 30.000 kaki atau lebih, serta tidak terdeteksi radar. Besar kemungkinan dapat melintas ke dalam jalur penerbangan.

Selain itu balon udara dengan material besar jika tertabrak pesawat udara mengalami kerusakan, kehilangan kendali dan bahkan dapat menyebabkan pesawat jatuh. “Apalagi selama masa angkutan Lebaran 2017 terjadi peningkatan frekuensi penerbangan. Tercatat jumlah penerbangan yang melalui jalur penerbangan di atas Wonosobo mencapai kurang lebih 300 pergerakan setiap harinya,” sambung Nono.

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan