Hati – hati peredaran uang palsu

TEMANGGUNG, Delikjateng.com – sejumlah puluhan juta rupiah lembaran uang palsu pecahan Rp. 100.000, Rp 50.000, dan Rp. 20.000 berhasil diamankan oleh Polisi Resort (Polres) Temanggung beserta lima orang ikut diamankan karena merupakan pembuat dan pengedarnya. Mereka ditangkap di area Pasar Bedono, Desa Kebumen, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung.,

Kapolres Temanggung AKBP Muhammad Ali mengatakan, para tersangka yakni DH dan AR warga Semarang, pasangan suami istri (pasutri) SN dan SM warga Temanggung, dan SB warga Magelang.
“Kasus itu bermula dari laporan warga ke Polsek Pringsurat karena menerima upal sebanyak enam lembar dengan pecahan Rp 50.000 dari tersangka SN” katanya.

Uang tersebut digunakan SN untuk membeli sayuran dan buah-buahan di Pasar Medono, Kecamatan Pringsurat. Polisi kemudian mengembangkan kasus itu dengan menggeledah rumah pasangan SN dan SM di Kelurahan Walitelon, Kecamatan Temanggung.
Di tempat itu polisi menemukan 265 lembar upal pecahan Rp 50.000, 69 lembar upal pecahan Rp 20.000, satu lembar kertas plano pecahan Rp 100.000. Adapun total upal yang disita dari pasangan ini sebanyak Rp 15,13 juta.

“Selanjutnya petugas mengembangkan dan menangkap tiga tersangka lainnya, yakni DH, SB, dan AR di Temanggung dan diketahui otak pembuat upal itu adalah DH yang merupakan residivis juga untuk kasus upal,” katanya, Kamis (3/10).

Kemudian DH menunjukkan tempat pembuatan upal itu ada di rumah kontrakannya di Kota Semarang. Dalam membuat upal, DH dibantu oleh AR.

Polisi melakukan penggeledahan rumah kontrakan DH di Pedurungan, Semarang. Di lokasi tersebut didapat satu lembar upal pecahan Rp 100.000 milik SB, 263 lembar upal pecahan Rp 100.000 atau senilai Rp 26,3 juta, 197 lembar upal pecahan Rp 50 ribu atau senilai Rp 9,85 juta.
“Barang bukti berupa satu unit sepeda motor bernomor polisi H 4099 QZ milik DH dan printer,” katanya.

Ia menyebutkan, peran masing-masing tersangka, yakni SM dan SN memesan upal dan mengedarkannya, SB merupakan makelar penghubung DH dan SM, DH adalah pembuat sekaligus pengedar upal, dan AR membantu DH membuat upal.

Ali menyampaikan para tersangka dijerat Pasal 36 jo Pasal 26 Undang-Undang RI nomor 07 tahun 2011 tentang Mata Uang dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar.
“Kami masih mengembangkan kasus ini untuk menyelidiki kemungkinan para tersangka terkoneksi dengan jaringan pengedar upal di atasnya,” katanya.

“Tersangka DH mengaku membuat upal atas pesanan dari pasangan suami istri SM dan SN sejumlah Rp 50 juta. Namun saat ditangkap, upal yang sudah dibuat baru Rp 36,150 juta. Lainnya masih dalam proses pembuatan,” katanya.

(SUchafif)

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan