Grabah Kundisari Terpuruk

Bupati Temanggung, Drs M Bambang Sukarno, grabah kundisari
Bupati Temanggung, Drs M Bambang Sukarno sempat mengamati hasil produksi grabah Kundisari, saat pencanangan Kampung Keluarga Berencana (Foto:Mahasiswa KKN ISI Surakarta)

TEMANGGUNG,delikjateng.com – Produksi grabahdi Desa Kundisari, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, dalam beberapa tahun terakhir mengalami keterpurukan. Permasalahannya pada seputar pemasaran, karena kerajinan keramik Kundisari kalah saing dengan produk dari bahan plastik.

Padahal, tahun-tahun lalu kerajinan Kundisari pernah menjadi produk andalan bagi Kabupaten Temanggung. Para perajin di sentra kerajinan yang terpusat di Dusun Nyamplung itu, selain memproduksi peralatan rumah tangga berbahan tanah liat, juga kerajinan.

” Hasil kerajinannya macam-macam. Ada sofenir, patung hewan, celengan, kendi hias, pot bunga, juga peralatan rumah tangga seperti anglo, coek, genting dan batu bata,” kata Muji (51).

Di Dusun Nyamplung, produksi gerabah semacam itu dilakukan hampir sebagian besar masyarakat. Itu mereka jalankan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka.

Itu makanya Kundisari dikenal sebagai daerah produsen grabah terkemuka, meski kala itu pemasarannya hanya sebatas lokalan sekitar. Baru pada Tahun 1990an, banyak pengrajin disana mempelajari olahan yang lebih modern, dengan belajar di Sentra Kerajinan Bayat, Kebumen, bahkan Bali.

” Dari belajar di sejumlah daerah produsen itu kami lalu memproduksi kerajinan berbau seni. Tapi produk awal berupa grabah peralatan rumah tangga tidak kami tinggalkan,” ujar Muji.

Praktis, ketika itu mata pencaharian warga cukup mengandalkan produksi grabah tanah liat selain bertani. ” Tapi itu dulu. Sekarang sudah berbeda,” tambahnya.

Mengapa ? Umumnya sekarang pengrajin sudah tidak berproduksi lagi. Kalaupun masih ada, jumpahnya tidak banyak, kurang dari separo.

Penyebabnya, pemasaran kerajinan tanah liat semakin sulit. Pesanan menurun sangat tajam, akibat kalah saing dengan produk serupa dari bahan plastik.

Umumnya para perajin yang masih bertahan, tinggal memajang sisa keramik yang belum terjual. Beberapa pemilik sentra usaha keramik mengatakan, penurunan produksi terus terjadi dalam lima tahun terakhir akibat sepinya permintaan.

”Jangankan untuk ekspor seperti pernah dicita-citakan dulu, untuk masuk ke pasar lokal di Jateng, atau bahkan Temanggung saja sekarang sulit,” kata mereka.

Tak ada pilihan selain menghentikan produksi. Kecuali pengrajin-tua seperti Muji, Ny.Hasih (70), Sambudi (60), yang tetap bertahan dengan produksi seadanya.

Padahal kerajinan keramik Kundisari memiliki motif yang khas, didominasi hewan. Harga kerajinan keramik bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 3 juta per satuan. Ketika permintaan masih bagus, kerajinan keramik Kundisari juga dipasok luar daerah di Jawa Tengah.

Kepala Desa Kundisari, Khabib Fauzi saat dihubungi wartawan Delik Jateng membenarkan perihal mundurnya produk keramik grabah di desanya. Dia berkesimpulan, permasalahan yang dihadapi pada pemasaran, utamanya kalah saing dengan produk serupa berbahan plastik.

”Kerajinan keramik Kundisari dibuat secara tradisional sehingga hasilnya berbeda dengan produksi plastik. Sayang memang,” katanya.

Mundurnya produksi grabah Kundisari itu memang disayangkan berbagai pihak. Termasuk Bupati Temanggung, Drs M.Bambang Sukarno saat meresmikan Kampung Keluarga Berencana di Kundisari beberapa waktu lalu, sempat mengungkapkan keprihatinannya.

” Bapak bupati minta saya berupaya untuk mengembangkan lagi. Misalnya dengan nembangun galeri, serta terobosan pasar lainnya,” ujar Khabib Fauzi.

Dari sini, nampaknya sangat perlu uluran tangan berbagai pihak. Agar nama Kundisari sebagai sentra produksi gerabah berkibar sebagaimana terjadi pada tahun- tahun lalu. (nariyono – sigit purnomo)

Tinggalkan Balasan