Takut Dicoret, Pegawai Honorer Korban Penipuan Tidak Melapor

ilustrasi rampok

KLATEN,delikjateng.com— Jadi pegawai rendahan memang susah. Setidaknya dialami belasan tenaga honorer kategori II (K2) di Klaten, yang diduga menjadi korban penipuan bermodus iming-iming pengangkatan CPNS.

Mereka memenuhi panggilan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Klaten, pada Rabu (21/6/2017).Dari 11 pegawai yang ditengarai menjadi korban penipuan, hanya 9 yang memenuhi panggilan BKPPD.

Mereka dimintai keterangan oleh tim lintas satuan kerja seperti BKPPD, Inspektorat, serta Bagian Hukum. Dalam keterangannya, ”para korban” mengaku takut melapor lantaran khawatir nama mereka dicoret dari daftar CPNS.

Menurut keterangan, belasan pegawai honorer K2 itu merupakan guru tidak tetap (GTT) serta pegawai tidak tetap (PTT) dari unsur pendidikan. Mereka merupakan tenaga honorer K2 yang tak lulus tes seleksi CPNS pada 2013 silam. Mereka diiming-imingi bisa mendapatkan NIP melalui kuota tambahan dengan syarat menyetorkan sejumlah uang.

Pemkab Klaten mencurigai jaringan calo yang telah menjanjikan iming-iming tersebut. Yakni Sdy, seorang kepala SMP negeri, dan Wt, seorang PNS dari lingkungan pendidikan. Seorang lagi pensiunan PNS asal Boyolali berinisial Is serta Wb yang mengaku pegawai Badan Kepegawaian Negara (BKN). Mereka santer disebut-sebut terlibat dalam kasus tersebut.

Hingga saat ini, baru Sdy dan Wt yang dimintai keterangan oleh tim. Kabid Umum dan Kepegawaian BKPPD Klaten, Dodhy Hermanu, mengatakan, dalam kasus itu, baru Sdy dan Wt yang sudah dimintai keterangan. Mereka dimintai keterangan perihal ada tujuh korban mengaku menyetorkan uang Rp50 juta-Rp80 juta per orang.

“Penyetoran uang dilakukan melalui rekening. Ada yang setor sekali langsung puluhan juta rupiah, ada beberapa kali pengiriman,” kata Dodhy kepada wartawan Rabu.

Kebanyakan uang disetorkan ke Sdy sebelum disetorkan ke Is. Namun, ada satu atau dua orang yang menyetorkan langsug ke rekening Is sebelum disetorkan ke pihak lain yang mengaku sebagai pegawai BKN.

Umumnya para korban memiliki masa tugas beragam. Namun jenjang paling lama bertugas sejak 1991. Mereka rela menyetorkan uang hingga puluhan juta rupiah lantaran tertarik iming-iming menjadi CPNS dengan adanya kuota tambahan.

” Apalagi, para korban kerap diajak melakukan pertemuan dengan mendatangkan orang yang disebut-sebut sebagai pegawai BKN,” ujar Dodhy.

Ada kemungkinan masih banyak korban lain yang senasib dengan tujuh orang korban tersebut. Meskipun itu melalui jalur lain diluar yang tengah diusut Pemkab Klaten.

Sementara itu Kasubag Umum dan Kepegawaian Sekretariat Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Satyawira Surya Agus, mengatakan, peserta seleksi spada Tahun 2013 itu sekitar 2.500 orang. Dinyatakan lolos hanya 1.098 orang, dan sudah mendapatkan NIP sekitar 700 orang.

ads

Related posts

Tinggalkan Balasan