PROMOSI BUDAYA LOKAL, PWRI BLORA PERKENALKAN BATIK NUANSA KHAS BLORA

Batik PWRI

Blora, delikjateng.com – Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora mewujudkan batik bernuansa Blora untuk seragam terbaru bagi para pengurus.

“Alhamdulillah, hari ini Jumat Legi, tanggal 15 Januari 2021 saya dapat mewujudkan seragam terbaru untuk pengurus PWRI kabupaten Blora dan para Ketua PWRI Kecamatan/Kelurahan se kabupaten, berupa Batik ciri khas Blora,” ungkap Ketua PWRI Blora, H.Bambang Sulistya, di Blora, Jumat (15/1/2021).

Mantan Sekda Blora itu menyebut tujuan pemakaian seragam batik terbaru nuansa Blora adalah dalam rangka ikut uri-uri atau
melestarikan hasil karya Bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan budaya adiluhung Bangsa Indonesia yg telah diakui dunia.

“Disamping untuk menumbuhkan perekat rasa kekeluargaan, kebersamaan dan semangat pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.

PWRI Blora

Bambang Sulistya menerangkan pemakaian seragam batik itu untuk informal dalam berbagai kegiatan.

“Untuk silahturahmi, resepsi, rekreasi, takziah dan untuk kegiatan pertemuan non formal lainnya,” kata Bambang Sulistya.
Filosofi batik terbaru, menurut dia, memiliki dua misi, yaitu disingkat dengan akronim MP.

“Bukan mami papi, tapi Motivasi dan Promosi,” ucapnya.
Ia menjelaskan, Motivasi meliputi dua figur wayang Arjuna dan Srikandi.

“Dengan mengambil kelebihan yang dimiliki. Arjuna mempunyai sifat bersahaja, cerdik, jujur, sopan beretika. Sebagai kasatria punya sikap yang teteg (kukuh), tatag (tidak was was), tanggap (mengerti), tangguh (kuat), tanggon (dapat diandalkan) dan tutug (Tuntas),” jelasnya.

Sedangkan untuk Srikandi, selalu tampil terbaik dibidang yang dikuasi, tegas dan berani dalam segala hal, mandiri, gemar belajar, teladan dalam kemandirian, kecantikan dan menghargai orang lain.

“Tentu saja diharapkan siapapun yang memakai batik ini bisa mengamalkan nilai-nilai positif dari dua figur wayang tersebut,” katanya.

Kemudian dominasi warna hitam dari warna batik, bahwa menurut keyakinan masyarakat Samin warna hitam lambang kesederhanaan dan mengingatkan semua umat manusia kedudukan sama di hadapan Allah.

“Warna hitam juga lambang kewibawaan dan kekuatan,” tambahnya.

Berikutnya, P- Promosi. Dari motif gambar dalam batik adalah tanaman jati yang diwujudkan dengan ornamen daun jati untuk mengingatkan di Blora ada hutan jati yang luasnya hampir 50 persen dari luas kabupaten Blora.

“Kualitas kayu jati paling baik di Indonesia, pernah dijual satu pohon jati seharga Rp 1 miliar dan masuk MURI. Saat ini masih ada pohon jati tertua di dunia, yakni Jati Denok, umurnya lebih dari 350 tahun,” bebernya.

Kemudian promosi burung merak burung yang indah dan cantik.
Burung merak masih ada di hutan kayu jati. Meskipun saat ini populasi burung merak perlu ada upaya pelestarian karena semakin langka atau berkurang.

“Semoga batik tersebut tidak hanya dimiliki oleh pengurus dan anggota PWRI, tapi juga bisa dipakai oleh seluruh elemen masyarakat sehingga bisa mendongkrak perekonomian industri rumah tangga yang bergerak di bidang seni batik pada masa pandemi Covid-19,” harapnya.

Saat dihubungi secara terpisah, Bupati Blora, Djoko Nugroho, menyampaikan apresiasinya dengan diperkenalkan motif batik ini.

“Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh PWRI Blora dan berharap agar masyarakat Blora bisa terus bangga dengan budaya lokal kita sendiri, dalam hal ini batik” Ucap Djoko Nugroho.

 

(Arif)

Leave a Reply