Mak Ketut – Apresiasi Setinggi Tingginya Kepada Sedulur Seniman Blora

 

Blora, delikjateng.com – Pembatasan sosial dan fisik karena pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk aktivitas seni budaya. Berbagai workshop seni, pameran, pembacaan sastra, puisi, atau pementasan seni pertunjukan yang sudah terencana sebelum pandemi terpaksa dibatalkan.

Penyanyi pun merasakan dampak yang sangat besar. Sebagai penyanyi di Kabupaten Blora sejak diberlakukannya pembatasan sosial,pertunjukan seni ditiadakan.

Kebijakan pembatasan sosial maupun fisik tersebut sangat berdampak bagi para seniman dan pekerja seni. Peristiwa itu tidak saja mengurangi secara drastis forum-forum kesenian bermutu yang selama ini dinanti, tetapi juga membuat gejolak lain tentang polemik nasib hidup seniman.

Namun, meski mengalami kerugian ekonomi, Ria menuturkan bahwa pandemi juga menimbulkan dampak positif. Dengan adanya pandemi, dia jadi memiliki waktu untuk lebih menggali kemampuan dan kemudian mempunyai ide untuk berjualan .

Ide berjualan muncul dari saran teman-temannya sesama seniman. Di tatanan normal baru, seniman tak boleh hanya mengandalkan pendapatan dari panggilan pemilik hajatan. Apalagi, hiburan bukan lagi kebutuhan vital hajatan di masa pandemi covid-19. Sehingga, seniman perlu memiliki keahlian berwirausaha .

Derita pekerja seni tidak hanya dirasakan dan tak sedikit juga pekerja seni di Blora yang meradang. Unek-unek itu disampaikan kepada politisi partai Nasdem Siti Rochma Yuni Astuti/ mak ketut, sambil makan dan  membeli sisa dagangan.

Pasalnya, selain merupakan anggota DPRD Kabupaten Blora dia juga merupakan ketua Paguyuban Sedulur Seniman Blora ( SSB ) .

Ia menyampaikan, sebagai pembina SSB aksi beli dagangan ini untuk meringankan beban teman seniman selama berlangsungnya PPKM

“Saya membeli sebagian atau sisa dagangannya untuk meringankan beban mereka dan membagikan kepada orang-orang yang membutuhkan,” ujar Siti Rochma Yuni Astuti, Sabtu (31/7/2021).
Siti Rochma menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh para sedulur seniman Blora yang telah dan masih terus bekerja keras dimasa pandemi Covid – 19 .

”Saya meminta mereka bersabar,” ucapnya.

Lantas, apa permintaan seniman? Menurut Siti Rochma, yang sangat dibutuhkan adalah kepastian. Kepastian mereka bisa kembali bekerja. Kembali manggung di depan ratusan orang. ”Seniman rindu menghibur warga. Seniman rindu berkreasi,” jelasnya.

Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat khususnya untuk Pulau Jawa dan Bali hingga kini masih berlangsung.

Ekonomi merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak imbas adanya PPKM Darurat ini.

Sebetulnya tidak hanya ijin.seniman juga perlu crash program khusus lintas sektoral yang bisa dibuka secara sinergi dan harmoni antara pemangku kepentingan di semua lini.

Hendaknya pentas pertunjukan yang menyertakan penonton banyak terukur, tidak disikapi dengan phobia tumbuhnya klaster klaster pandemi baru. Namun juga harus dilihat sebagai oase katarsis, danau teduh bagi masyarakat agar tetap bisa bahagia melewati pandemi.ada normal baru,hidup bersama virus ini tapi tetap bisa menonton hiburan obat jiwa,jelasnya .

Selain itu,ria sebagai seniman, dia sejatinya malu meminta-minta. Enggan berharap orang memberikan bantuan. Ada satu prinsip hidup yang dia pegang teguh. ”Seniman punya karya. Kami ingin karya kami mendapatkan apresiasi warga,” tegasnya.

Ia berharap para pemegang kebijakan dapat memberikan solusi atas permasalahan para pemain panggung. Sampai saat ini ia dan rekan-rekannya belum bisa pulih dari dampak Covid-19.

“Harapannya segera diberi ijin untuk pentas dan mohon kami dari para seniman untuk dapat diperhatikan,” tandasnya.

(Arif)

Leave a Reply