Uang ganti untung Proyek Tol Desa Sawangan Rp 15,1 M Dipertanyakan

kantor desa sawangan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang
kantor desa sawangan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang

BATANG, delikjateng.com – Uang hasil penjualan tanah bondo desa sawangan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang senilai Rp 15,1 Milyar dipertanyakan sejumlah warga. Dana itu untuk proyek jalan Tol Pantura itu diduga ada yang disalahdigunakan oleh oknum punggawa desa serta aparat lainnya.

Mereka menilai perilaku itu sebagai tindak pidana korupsi (Tipikor), sehingga diharapkan perlu diusut tuntas dan menyeret para pelakunya.

Hal ini sebagaimana disampaikan Sekretaris Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi ( GNPK) Propinsi Jawa Tengah, Rahmat, yang memprihatinkan kondisi dugaan korupsi di desa, terutama dengan setelah gelontoran dana ke desa-desa.

Dalam kasus desa sawangan ini, dugaan sementara pihak desa menjual tanah bondo desa untuk proyek jalan tol. Namun uang hasil jual tanah desa tersebut tidak semuanya dimasukan ke kas desa. Tapi diduga disalahgunakan oknum aparat desa.

“Mereka diduga bermain-main dengan uang Rakyat dan dipakai bancakan, yang kabarnya uangnya mengalir kemana-mana ,” ujarnya kepada Jurnalis delikjateng.com.

Rahmat menegaskan, kasus dugaan korupsi hasil penjualan tanah desa sawangan ini termasuk kasus yang besar, yang akan segera dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena diduga kasus ini melibatkan banyak pihak.

” Kami akan segera melakukan klarifikasi dan pengkajian atas kasus ini. Karena dalam pembelian tanah pengganti tanah desanya diduga ada mark up harga yang tidak sesuai harga pasaran,” tegasnya.

Sementara Kepala Desa Sawangan, Subeno saat dikonfirmasi terkait dugaan adanya dugaan tersebut, melalui handhonenya membantah isu tersebut. Bahkan meminta agar media ini bisa menemui sekdesnya.

” Itu nggak benar, kalau mau bertarung lagi. Nanti di Pilkades yang akan datang. Silahkan temui Sekdes,” tuturnya.

Sementara Sekdes Sawangan, Nasokha saat didatangi dirumahnya, hanya ditemui istrinya . ” Saya nggak tahu pak. Karena saya dengan pak sekdes urusannya masing-masing pak,” ujar istri sekdes kepada delikjateng.

Diperoleh keterangan, dana hasil penjualan tanah bondodeso sawangan yang nilainya cukup spektakuler tersebut diduga disalahgunakan oknum aparat desanya beserta mitra aparat lainnya. Dengan modus melakukan penggelembungan harga ( Mark up) dalam pembelian tanah pengganti tanah bondodesa seluas 7,2 hektar, dengan total pembelian sebesar Rp 13 Milyar. Padahal semestinya total harga pembelian tanah tersebut didaerah batang harga normalnya hanya senilai Rp 4 Milyar yang selisihnya masih ada Rp 9 Milyar.

Diduga sisa lebih selisihnya itulah yang kini alirannya kemana-mana. Sedangkan sisa lainnya yang saat ini disimpan di Kas Desa Sawangan hanya sebesar Rp 2 Milyaran.

Kemudian informasi yang berkembang saat ini, dikabarkan ada tokoh Desa Sawangan yang tiba-tiba membeli rumah , tanah perkebunan di Kalimantan yang nilainya ratusan juta rupiah.

Juga ada yang menyebut sejumlah aparat lainnya di desa itu secara berjamaah membeli sepeda motor varian baru bermerek Yamaha N Max . Namun anehnya kasus yang dinilai besar ini, nampaknya hingga kini terkesan diabaikan penanganannya oleh aparat penegak hukum

” Padahal sejatinya dana milyaran tersebut merupakan milik rakyat desa untuk membangun desa dan juga bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan Warga desa lainnya,” ujar mereka.(Tim Biro Pantura)

Leave a Reply