Trading berakhir Nestapa

Kendal, delikjateng.com – Tergiur mendapatkan iming-iming devident tinggi, sejumlah member dibawah naungan PT Samudra Permata digital melaporkan pemilik perusahaan dan 2 pengelola perusahaan tersebut (upline) ke Polda Jateng.

Kedua Pengelola trading berinisial DH alias HB warga Cepiring dilaporkan ke Krimum Polda jateng, sedangkan MYD warga Ringinarum dan AR warga Pelembang, pemilik Perusahaanya dilaporkan ke Krimsus Polda jateng, ketiga terlapor ini adalah pengelola PT Samudra Permata Digital Cabang Kendal, perusahaan yang bergerak dibidang trading dan jula beli bigcoin ( mata uang Crypocurency) mereka dilaporkan, karena di duga telah melakukan penipuan kepada para downline, dengan tidak mengembalikan modal dan membayar share Profit yang telah di sepakati, yaitu sebesar 1 persen perhari.

Modus lainya yang dilakukan terlapor adalah dengan jalan meng-iming-imingi kepada masyarakat agar mau menanamkan modalnya di perusahan dimana kedua orang tersebut sebagai pengelola (PT SPD), minimal modal yang harus disetor sebesar Rp.15 juta rupiah, dengan keuntungan, akan mendapatkan bonus passive serta daily growth minimal 1 persen perhari, dalam tenor 60 hari, belum perhitungan bonus-bonus lainya.

Kemudian modus lainya, kepada calon membernya, dia menjanjikan keuntungan yang besar serta memiliki peluang keuntungan pengembalian modal lebih cepat, karena kenaikan 1 persen perhari dari bisnis yang ditawarkan platform doble profit, dan ini bisa diambil 15 hari sekali.

Akibat dari hilangnya modal para investor tersebut selanjutnya para member menunjuk kuasa hukum untuk melakukan pendampingan terhadap persoalan yang melilit mereka, diperkirakan Lost money yang sampai sekarang tidak bisa dipertanggung jawabkan oleh pengelola untuk cabang Kendal saja sekitar 4 milyar, dan diluar sana masih ada ribuan member yang tidak tau harus bagaimana.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, tim kuasa hukum akhirnya menemukan bukti bahwa PT Samudra Permata Digital tidak ter-register di dalam Lembaga Otoritas Jasa Keuangan Jawa tengah serta tidak memiliki ijin dalam hal penghimpunan dana dari masyarakat.

Sementara itu, Rumah Kedua terlapor, baik yang ada di cepiring maupun di ringin arum, saat kami kunjungi terlihat sepi, beberapa tetangga saat ditanya mengatakan bahwa sudah lama penghuninya tidak terlihat,

” Sampun dangu mboten ketok ten nggriyo mas, ( sudah lama tidak terlihat dirumah),” kata tetangganya.
(A.Khozin)

Leave a Reply