PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI PEKALONGAN 6 CM PERTAHUN

Foto udara wilayah terdampak Rob di Kota Pekalongan

Pekalongan, delikjateng.com – Badan Geologi mencatat penurunan muka tanah di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, hingga enam sentimeter per tahunnya.
Pemkot Pekalongan pun buka suara terkait fenomena penurunan muka tanah di kawasan pantai utara (pantura) tersebut.

Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Ir. Anita Herukusumorini, MSc , mengatakan tanah wilayah Kota Pekalongan merupakan jenis tanah endapan yang usianya tergolong masih muda. “Kota Pekalongan, tanahnya merupakan endapan yang usianya masih muda. Sebetulnya wajar, bila ada penurunan tanah” kata Anita kepada media delik jateng, Jumat (22/1/2021). “Tapi ini, kita belum bisa menjustifikasi penyebab penurunan tanah itu, Penelitian itu masih terus dilakukan Untuk mengetahui penurunan muka tanah di wilayah Kota Pekalongan, Badan Geologi telah memasang dua patok BM (Benchmark) untuk mendeteksi terjadinya penurunan tanah. “Ada dua (BM), satu di Stadion Hoegeng, Pekalongan Barat, satunya lagi di Kecamatan Pekalongan selatan,” katanya.

Kedua alat tersebut dipasang sejak bulan Maret 2020 lalu. “DI Hoegeng sejak dipasang Maret 2020 hingga 4 Januari 2021, ada penurunan 4,9 sentimeter. Di wilayah Pekalongan Selatan lebih lambat, sekitar 2 sentimeter, ungkap Anita
Semakin ke utara, lanjutnya, semakin tebal endapanya. Untuk itu, pihaknya akan menambah alat ukur BM di wilayah utara.

“Jadi semakin ke utara (Pekalongan), maka ketebalan elemen semakin tebal. Untuk mengetahui berapa besar dan penyebabnya, perlu dilakukan pendeteksian yang lebih akurat. Untuk itu diperlukan pemasangan alat. Anita menyebutkan penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Kota Pekalongan awalnya diperhitungkan satu sampai dua sentimeter per tahun “Namun, kenyataannya seperti yang disampaikan Badan Geologi, penurunannya sampai enam sentimeter itu, mungkin akibat aktivitas – aktivitas yang menyebabkan atas penurunan itu,” ujarnya.

Aktivitas yang dimaksud adalah pengambilan air tanah, yang menurutnya tidak saja terjadi di Kota Pekalongan
“Pengambilan air tanah, menyebabkan terjadi lubang di bawah, lubang itu kemudian dilakukan pemampatan, lubang tertutup tapi terjadi penurunan tanah, karena dalamnya kosong. Jadi bisa karena itu, bisa juga karena aktivitas-aktivitas ekonomi yang membebani tanah,” jelas Anita.

Pihaknya mengaku menaruh perhatian terkait penurunan muka tanah ini dalam waktu lima tahun terakhir. Terutama saat Pekalongan kerap dilanda banjir maupun rob. “Kita memang sudah bekerja sama dengan Badan Geologi juga, terkait dengan penurunan tanah yang tadinya kita tidak menyadari kenapa kok rob (banjir) semakin lama semakin masuk ke dalam, terus kenapa banjirnya reda, robnya surut kok masih ada daerah-daerah yang masih tergenang,” jelasnya.

“Ternyata setelah ada penelitian, terjadinya penurunan tanah di Kota Pekalongan. penyebabnya, karena di Pekalongan itu merupakan tanah endapan yang usianya itu tergolong masih muda, dan karena itu, secara alami akan terus mengalami penurunan,” imbuhnya.

Anita menambahkan, wilayah Kota Pekalongan sebelumnya memang bukan daratan. Namun terbentuk dari endapan.”Kan menurut sejarahnya, seluruh Kota Pekalongan, wilayahnya dari endapan. Dulu kan, garis pantainya di Doro Kabupaten Pekalongan, dan di Bandar (Kabupaten Batang),””Kemudian makin lama makin maju, membentuk daratan di Kota Pekalongan, imbuhnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi adanya penurunan muka tanah yang lebih parah, Pemkot Pekalongan saat ini disebut sudah mulai mengurangi pengambilan air tanah.
“Izin sumur tanah ke Provinsi. Kita hanya rekom, tapi kita belum bisa menghentikan. Namun, kita sudah ada jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga dengan jalan PAM regional. Kerja sama dengan Pemkab Batang dan Pemkab Pekalongan,” bebernya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Pekalongan, H. A. Afzan Arslan Djunaid, SE, menjelaskan pihaknya kini tengah mengkaji atas fenomena penurunan muka tanah di Kota Pekalongan tersebut. “Ya harus diantisipasi terkait penurunan tanah. Salah satunya meminimalisir pengambilan air bawah tanah,” ujar Afzan.

Diberitakan bahwa penurunan muka tanah (land subsidence) terjadi di daerah pesisir Pantai Utara (Pantura). Badan Geologi mencatat penurunan muka tanah terjadi paling parah di Kota Pekalongan, dengan penurunan tanah hingga enam sentimeter per tahunnya.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan untuk mengukur tingkat penurunan muka tanah ini pihaknya telah membuat sumur pantau. “Kita membuat sumur pantau, pada alat pantau ini kita melihat seberapa jauh penurunan muka tanah, hasilnya di tahun 2020, terjadi penurunan enam sentimeter per tahun. Demikian kata Eko

Sebelumnya, Badan Geologi telah melakukan kajian di sejumlah titik yang berada di pesisir Pantura yang meliputi Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang dan Demak. Para peneliti terdahulu, termasuk ITB, telah melakukan penelitian dan menyepakati bahwa telah terjadi penurunan muka tanah di Pekalongan, walau besaran penurunan tanahnya bervariasi tergantung metode pengukuran.

“Para peneliti sepakat di sana memang ada penurunan cuma besarannya ada yang bervariasi, ada yang 9-10 sentimeter, itu tergantung pada pengukurannya, tapi kami dari Badan Geologi membuat alat pantau, Kita terus pantau penurunan signifikan dari 1,3 sentimeter, kemudian 2,3 sentimeter, kemudian September 2,7 sentimeter, sampai akhirnya, ada 6 sentimeter, per tahun. Perbedaan (penghitungan) tidak jadi persoalan karena saling melengkapi,” tuturnya.

Badan Geologi telah menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah setempat untuk mencegah dampak dari penurunan muka tanah di Pekalongan dan daerah lainnya. Mulai dari pembuatan tanggul, folder air, penataan drainase dan pengendalian abrasi lewat tanggul, hingga penanaman mangrove.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Ir. Andiani. MT mengatakan penurunan muka tanah di Pekalongan disebabkan karena tanah lunak yang ada di daerah itu. “Jadi penyebab penurunan tanah di Pekalongan ini karena keberadaan tanah lunak ada pada daerah itu. Berdasarkan kajian geofisika tim kami, ketebalan tanah lunak itu hingga 40 meter di bawah permukaan. Memang menunjukkan ke arah utara semakin tebal hasil analisa kami pun menyimpulkan penurunan tanah ke arah utara semakin tinggi, ucap Andiani.

Selain itu, penurunan muka tanah juga disebutnya bukan berasal dari eksploitasi air tanah yang berlebihan dari lokasi tersebut. Pasalnya, lokasi industri letaknya cukup jauh dari tempat penurunan muka tanah.
“Berdasarkan kajian kami, meskipun ada pengambilan air tanah di daerah industri, proses penurunan air tanah tidak berhimpit dengan penurunan tanah. Sehingga kami tidak menganggap karena penurunan tanah ujar Andiani.
(Istiadi / Eddy.S )

Leave a Reply