INVESTOR ENGGAN MASUK KE EKS PT TOSSA JIKA SERING ADA DEMO

Kendal, Delikjateng.com. Salah satu persyaratan investor mau menanamkan modalnya diantaranya adanya kepastian hukum, Aman dan murah, jika suatu kawasan sering ada demo apalagi kemudian menutup jalan satu-satunya pintu masuk ke perusahaan, bisa berakibat investor enggan untuk menanamkan modalnya di lokasi itu,

Hal itu seperti yang disampaikan Manager Produksi, PT Dhenara, M.Prilandi kepada awak media usai demo warga Dukuh Mangir yang menutup jalan satu-satunya akses masuk PT Tossa Kamis, 01/10/20.

Menurutnya PT Tossa yang berlokasi di Kaliwungu yang sekarang mengalami pailit dan sudah dikuasai kurator.

Melihat perusahaan yang sangat besar dan mangrak, pihaknya menyewa sebagian dari pabrik itu berikut mesin dan infrastrukturnya. Namun PT Tossa hanya memiliki satu akses keluar masuk ke pabrik (one gate), sehingga jika ada demo dan jalan di tutup warga maka operasional bisa terganggu.

M. Prilandi menerangkan tentang cara kerja pabrik kaca, diantara yang harus diperhatikan sekali padahal tungku di dalam pabrik itu, yang harus menyala selama 24 jam, dan tidak boleh mati, kalau sekali saja mati, maka diperlukan perawatan selama 6 bulan dengan mendatangkan peralatan baru lagi dari luar negeri.

“Oleh karena itu, tungku tetep harus hidup selama 24 jam, jangan sampai mati, lha kalau dikit-dikit demo dan menutup jalan, tungku pasti akan mati, karena bahan bakunya tertahan,” terang manager Pri biasa dia dipanggil.

Dijelaskan mungkin warga tidak menyadari jika sering terjadi demo dan menutup jalan akan membuat investor yang akan masuk ke PT Tossa menjadi berfikir ulang bahkan bisa membatalkan.

M.Prilanggi menambahkan, dengan hanya ada one gate, dan seringnya demo, tentu akan membuat was-was para pemilik perusahaan, kerena dengan sekali pintu ditutup warga, mengakibatkan tungku akan mati, karena truck yang memuat bahan baku seperti gas, pasir kaca dan lainya akan tertahan, akibatnya, tungku akan mati.

Dalam aksinya ada empat tuntutan yang di usung para pendemo yang ditujukan kepada PT Dhenara, Penyewa sebagian lahan eks PT Tossa yang sudah dinyatakan pailit, dan sekarang dalam kekuasaan kurator yaitu suplai air, kompensasi tiap bulan, Rapel kompensasi yang belum terbayarkan dan besaran kompensasi, yang awalnya perbulan 1 juta, kemudian naik menjadi 1,5 juta dan sekarang menjadi 2,5 juta.”Selain 4 tuntutan diatas, warga juga meminta diberi kesempatan memanfaatan lahan tidur yang selama ini belum digarap PT Dhenara untuk dikelola warga, semua sudah disetujui,” jelasnya.

Eko Iriawan, salah satu perwakilan warga Mangir mengatakan kampunya baru saja terjadi pergantian pengurus RW, sehingga perwakilan pengurus dan sejumlah warga ingin komunikasi dengan PT Denara. Selain itu memang sudah beberapa bulan ini, aliran air bersih dari dalam perusahaan terhenti sehingga sekalian ingin menanyakan.

“Intinya kita komunikasi dengan perusahaan agar hubungan dengan warga sekitar baik,” ujar Eko.

Dijelaskan, warga juga meminta diberi kesempatan memanfaatan lahan bisa yang mangkrak untuk dikelola warga.

“Intinya warga ingin agar CSR perusahaan bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.

(A. Khozin)

Leave a Reply