Wayangan Grebeg Makukuhan Usung Cerita Wahyu Cakraningrat

Pentas Dalang Ki Sindu di grebeg Makukuhan  Kedu.
Pentas Dalang Ki Sindu di grebeg Makukuhan Kedu.(foto humas)

TEMANGGUNG,delikjateng.com – Pentas kesenian wayang kulit semalam suntuk dalam rangka grebeg Makukuhan Senin (14/5) malam berlangsung di komplek makam Ki Ageng Makukuhan Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung.

Pentas wayang menyuguhkan cerita Wahyu Cakraningrat bersama dalang Ki Sindu dari Desa Tening Kecamatan Wonoboyo .Sebelumnya ketua panitia Tito Riyono mengatakan, pentas wayang kulit merupakan agenda penutup dari seluruh rangkaian acara jelajah wisata budaya dan grebeg makukuhan tahun 2018 .

Diutarakan, berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan diantaranya pengajian khoul akbar dan kirab budaya yang mengarak gunungan hasil bumi , replika flora fauna dan atraksi kesenian tradisional . Acara tersebut dilaksanakan guna mengenang jasa-jasa Ki Ageng Makukuhan sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Kedu sekaligus untuk menyambut datangnya bulan Ramadan 1439 Hijriah.

Sementara Dalang ki Sindu menuturkan, cerita wayang yang dipentaskan mengisahkan raja-raja jagad pewayangan riuh memperebutkan Wahyu Cakraningrat, yang diyakini memberi kuasa atas wilayah timur hingga barat dan utara sampai selatan. Namun, tak mudah memperoleh wahyu sang batara, yang hanya akan turun ke manusia terpilih.

Kompetisi, strategi dan penaklukan ternyata bukan satu-satunya cara memperoleh Wahyu Cakraningrat. Dalang Ki Sindu menceritakan Raden Samba yang mewarisi pengetahuan ramandanya Prabu Kresna, harus memperoleh Wahyu Cakraningrat itu dengan siasat apapun, namun bijaksana. Lain Raden Samba, lain pula cara Raden Lesmana Mandrakumara. Baginya, dengan cara bagaimanapun yang penting wahyu ini harus didapatkan, dengan catatan harus terkesan sportif.

Bagaimana dengan Raden Abimanyu? Dia yang juga sempat merasakan bagaimana dulu ramanda dan paman-pamannya (Pandawa) dipecundangi, dikhianati dan dikucilkan oleh trah Kurawa, mencoba menyikapi hal ini dengan lebih berhati-hati. Pada akhirnya, tak satupun berhasil. Wahyu Cakraningrat hanya akan merasuk ke satria yang bersih lahir batin, cerdas dan tahan godaan, berbudi luhur, dan kepekaan sosial tinggi.

Camat Kedu Agus Sri Sudaryanto mengatakan pentas wayang kulit dengan mengusung cerita filosofi Wahyu Cakraningrat dinilai sangat pas mengingat tahun ini merupakan tahun politik . Sebagaimana diketahui pada tahun 2018 ini ada agenda pemilihan kepala daerah yakni Pilgub/Wagub Jateng dan Pilbup/Wabup Kabupaten Temanggung .

Inti cerita Wahyu Cakraningrat bahwa perebutan kekuasaan sepenuhnya dilakukan sesuai etika, manusiawi dan dengan kesadaran mengedepankan kebersamaan perilaku, bukan perilaku zalim dan tak bermoral. . Dengan demikian Pilkada bisa berjalan kondusif sukses tanpa ekses , masyarakat tetap rukun bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

(humas pemda temanggung)

Leave a Reply