Rangkaian Peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak

Waisak merupakan hari suci bagi umat Buddha. Dalam hari Waisak, umat Buddha memperingati 3 peristiwa besar, yang dikenal dengan Tri Suci, yakni lahirnya Pangeran Siddharta, perjalanan Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha, dan wafat sang Buddha Gautama.
Bagi umat Buddha, setiap tahun memperingati tiga peristiwa besar tersebut. Umat Buddha di Indonesia, salah satunya memperingati hari Waisak di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang. Berbagai kegiatan dalam rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 secara beruntun dilaksanakan, hingga puncaknya adalah Detik-detik Waisak.
Waisak tahun ini mengusung tema Pahami Hati Tampakkan Kesejatian Diri, dengan sub tema implementasikan Bodhisattvayana dengan berbagi dan melayani.

 

Pengambilan Air Suci dan Api Abadi

Pengambilan Air Suci

Kedua elemen alam tersebut digunakan bagi umat Buddha sebagai sara meditasi pada saat Detik-Detik Waisak di pelataran Candi Borobudur.
Air Suci diambil dari mata air di Umbul Jumprit, desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung (15/9). Biksu dari berbagai majelis mengambil Air Suci dengan menggunakan kendi. Sebelum pengambilan Air Suci, biksu dari masing-masing shangha terlebih dahulu memanjatkan doa Bersama dengan umat Buddha.
Air Suci tersebut selanjutnya dibawa ke Candi Mendut Magelang untuk disakralkan dan disemayamkan sebelum digunakan pada Detik-detik Waisak.
‘’Air bagi umat Buddha bermakna untuk membersihkan jiwa manusia. Air melambangkan kesejukan, kesuburan, sifat rendah hati, dan penuh damai’’, kata Martinius Nata, Wakil ketua panitia pengambilan Air Suci.

Penyakralan Api Abadi

Api Abadi atau api alam diambil dari desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Grobogan (17/5). Sama halnya dengan Air Suci, Api Abadi tersebut juga disakralkan dan disemayamkan di Candi Mendut.
‘’Bagi umat Buddha, api memiliki makna yang sangat penting, yaitu sebagai penerangan untuk kehidupan manusia. Api memancarkan sinar yang terang, yang akan menuntun manusia ke jalan yang benar,’’ terang Bante Wongsin Labhiko Mahathera.

 

Pindapatta di pelataran Candi Mendut

Tradisi Pindapatta

Rangkaian kegiatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2563 BE/2019 dilanjutkan dengan prosesi Pindapatta (18/5). Tradisi Pindapatta yakni berdana atau bersedekah. Dengan berdana untuk menghilangkan kesombongan yang ada pada diri umat.
Untuk mengikuti tradisi Pindapatta tersebut, umat Buddha menunggu kedatangan biksu di sekitar Candi Mendut. Umat sudah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipersembahkan kepada sang Biksu.
‘’Mengikuti tradisi Pindapatta ini bisa melepas keserakahan yang ada dalam diri. Bertepatan dengan bulan Waisak, bulan yang penuh berkah, sekalian berdana,’’ kata salah satu umat, Anji.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tradisi Pindapatta kali ini dilaksanakan di pelataran Candi Mendut Magelang. Biasanya, tradisi Pindapatta dilaksanakan di sepanjang Jalan Pemuda, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.
‘’Candi Mendut juga merupakan salah satu tempat yang baik bagi umat Buddha. Dengan melaksanakan kebajikan di Candi Mendut, diharapkan bisa mendapatkan berkah’’, terang Bante Kamsai Sumano.
Usai melaksanakan tradisi Pindapatta, para biksu dan umat Buddha melanjutkan dengan pembacaan Parita Suci di pelataran Candi Mendut.

 

Kirab Waisak

Kirab Waisak

Rangkaian kegiatan Tri Suci Waisak dilanjutkan dengan Kirab Waisak, yakni kirab di sepanjang jalan yang menghubungkan Candi Mendut dan Candi Borobudur (18/5). Perjalanan kirab waisak tersebut menggambarkan perjalanan sang Buddha Gautama untuk mencapai kesempurnaan.
Para biksu dan umat Buddha berjalan kaki di sepanjang jalan kirab Waisak tersebut sejauh 4 km. Turut diikutkan dalam kirab, yakni Air Suci dan Api Abadi, relik patung Buddha, serta beraneka ragam hasil pertanian.
Acara tahunan kirab Waisak tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Magelang. Masyarakat sangat berantusias untuk menyaksikan kirab Waisak tersebut secara langsung.

Sebelum memasuki Detik-detik Waisak, biksu dan umat Buddha mengikuti puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak di pelataran Candi Borobudur, Magelang (18/5). Dalam puncak perayaan tersebut, dihadiri oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifudin.
Menag sangat mengapresiasi kepada para pemimpin Walubi, yang mana bisa mengayomi, membina, dan membimbing para umat sehingga bisa tercipta kerukunan antar umat beragama. Lukman juga berpesan bahwa keberagaman merupakan ciri khas Indonesia yang merupakan sebuah kekuatan, bukan untuk melemahkan.
‘’Kita harus bisa mencegah berbagai upaya yang akan dilakukan untuk membuat kehidupan terpecah dan menimbulkan konflik,’’ jelas Lukman.

 

Penerbangan Lampion Waisak

Penerbangan Lampion

Penerbangan lampion menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu oleh umat Buddha dan Masyarakat. Sebanyak 5.000 lampion sengaja didatangkan untuk memeriahkan perayaan Waisak.
Pertama-tama, lampion waisak diterbangkan secara simbolis oleh biksu shangha di pelataran Candi Borobudur. Selanjutnya, ribuan lampion diterbangkan menyusul di Taman Lumbini, kompleks Taman Wisata Candi Borobudur.
‘’Lampion sebagai symbol penerangan serta doa dan harapan dari umat Buddha. Menerbangkan lampion adalah memberikan sinar yang terang di angkasa, sehingga bisa melenyapkan kegelapan bagi kehidupan manusia,’’ kata Bante Wongsin Labhiko Mahathera.

Detik-detik Waisak

Detik detik Waisak

Sebelum tiba waktunya Detik-detik Waisak, biksu dan umat Buddha membaca Parita Suci di pelataran Candi Borobudur (19/5). Pembacaan Parita Suci tersebut dilakukan oleh masing-masing majelis yang ada di Indonesia.
Usai membaca Parita Suci, dilanjutkan dengan pesan-pesan Waisak yang dipimpin oleh Bante Tadisa Paramita Mahastavira. Selanjutnya biksu beserta umat Buddha melaksanakan meditasi dengan khidmat dan khusuk.
Tepat pukul 04.11.09, Bante Tadisa memukul lonceng sebanyak 3 kali sebagai pertanda tiba waktunya Detik-detik Waisak.
‘’Detik-detik Waisak adalah suatu yang wajib dilaksanakan bagi umat Buddha pada saat hari Waisak. Detik-detik Waisak merupakan momen untuk memohon anugrah dari sang Buddha berupa bimbingan dan perlindungan,’’ kata Bante Tadisa.

Usai Detik-detik Waisak, biksu beserta dengan umat Buddha melaksanakan Pradaksina, yakni mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 kali searah jarum jam. Pradaksina bermakna untuk memberikan penghormatan kepada tubuh sang Buddha, dan bisa melenyapkan kotoran batin serta karma buruk.
Prosesi Detik-detik Waisak tersebut menjadi penutup dari rangkaian kegiatan perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2563 BE/2019. Waisak kali ini diharapkan semua masyarakat bangsa Indonesia bisa hidup rukun, yang merupakan kunci untuk menjadi negara yang kuat, maju, dan jaya.

(Tim)

Leave a Reply