Limbah Kopi Untuk BBG, Lebih Murah Dari Elpiji Bersubsidi

Ilustrasi panen kopi
Ilustrasi panen kopi

Delikjateng.com – Mau tahu ? Ternyata limbah kulit kopi bisa dijadikan untuk bahan bakar gas (BBG). Bisa jadi ini adalah cara mudah orang menghindari susah payah untuk membeli gas elpiji 3 kg (subsidi) yang kerap terjadi di berbagai daerah.

Setidaknya yang dibuktikan oleh Dr Soni Sisbudi Harsono, Anggota Tim Peneliti Coffee For Social Welfare (CFW) Universitas. Dia mengolah limbah kopi menjadi bahan bakar gas, yang bisa digunakan masyarakat untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

Dosen di Fakultas Teknologi Pertania (FTP) Universitas Jember itu, bersama mahasiswanya tengah berupaya, agar limbah kopi bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

“Kulit kopi bisa dijadikan bahan bakar pengganti gas, sehingga dapat menghemat ekonomi. Tinggal bagaimana masyarakat diberikan pelatihan untuk mengolah kulit kopi menjadi bahan bakar,” katanya di Kampus Universitas Jember.

Hasil penelitiannya, limbah kopi itu bersifat asam, sehingga tidak bagus untuk tanah serta berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar. Saat musim panen raya kopi, banyak ditemukan tumpukan menggunung dari limbah cangkang kopi ataupun kulit kopi tanpa penanganan yang bagus.

Biasanya masyarakat yang berada di sekitar limbah kopi sering sakit-sakitan, sehingga perlu ada upaya mengolah limbah dengan baik, serta membawa berkah bagi masyarakat.

Selama ini yang dilakukan petani menjadikan limbah kopi sebagai pupuk organik untuk tanaman kopi. Untuk proses itu, mereka menunggu berbulan-bulan dengan cara menbiarkan sampah dikumpulkan di kebun kopi.

Padahal, cara itu bisa merusak kondisi tanah, karena kulit kopi bersifat asam dan air serapan sangat tidak baik ketika musim hujan.

” Kebiasaan petani selama ini seperti itu. Kami mencoba memanfaatkan sebagai bahan bakar, dan proses pembuatan bahan bakar berupa briket cukup mudah dan biayanya murah,” tambahnya.

Caranya, limbah kulit kopi dikeringkan hingga kadar airnya dibawah 12 persen. Kemudian ukurannya diperkecil dan dicampurkan dengan bahan lain seperti grajen kayu atau arang sekam, yang dicampur dengan lem berbahan ketela.

” Lem ketela itu mudah dibuat sendiri. Setelah itu sampah kopi yang dicampur grajen kayu atau arang, dicampur lem ketela lalu dimasukan pada mesin pencatak dan dikeringkan,”.

Biaya untuk proses pembuatannya terjangkau bagi masyarakat menengah kebawah. Untuk menghasilkan 1 kilogram briket, hanya memakan biaya Rp6.500.

Setiap kilogram bisa untuk masak nasi 1 kilogram, masak air dan masak lauk pauk selama 8 jam. Kalau dihitung, lebih hemat 25 persen dari total biaya gas subsidi, sehibgga membantu mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga.

Soni bersama timnya telah berhasil memproduksi kompor hemat energi yang bahan bakarnya bisa menggunkan limbah kulit kopi. Kompor tersebut akan segera diproduksi massal, untuk dibagikan atau dijual dengan harga murah kepada masyarakat sekitar perkebunan kopi.

“Tidak hanya kulit kopi, ranting dan daun kopi pun bisa diproses sebagai bahan bakar kompor yang kami produksi. Api pun yang dihasilkan cukup besar bisa digunakan untuk rumah tangga ataupun usaha kecil seperti para penjual gorengan,” ujarnya.

Ia berharap kompor buatannya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan kopi dan akan membimbing masyarakat, agar bisa memproduksi kompor dan briket secara mandiri.

“Biaya untuk pembuatan satu kompor tidak lebih dari Rp125.000 dan bahan bakarnya tidak harus limbah kulit kopi, karena bahan bakar berupa Biopellet itu juga bisa dibuat dari limbah kotoran binatang ternak, batang pohon pisang dan sampah organik rumah tangga lainnya,” tambahnya.(narto)

Leave a Reply